Deloo.id, Jakarta – Empat tahun berlalu, tapi Plataran Group perusahaan hotel mewah yang dikenal ramah lingkungan masih belum juga menunjukkan langkah nyata soal kesejahteraan hewan.
Hari ini, suasana di depan Plataran Hutan Kota, Jakarta, berubah jadi ‘panggung aksi’ ketika sekitar 25 aktivis dari Act for Farmed Animals (AFFA) menggelar aksi damai dengan pesan yang menggugah: ‘Plataran, akhiri kandang sangkar sekarang!’
Mereka datang tak sekadar membawa spanduk. Aktivis mengenakan kostum ayam berwarna mencolok, menggambarkan dua sisi kehidupan ayam: satu terkurung dalam sangkar sempit, satu lagi bebas mengepakkan sayap di alam terbuka.
Visual ini jadi sindiran tajam bagi Plataran yang dianggap masih menutup mata terhadap penderitaan hewan.
“Sebagai perusahaan besar dengan citra hijau dan ramah lingkungan, mestinya tidak sulit bagi Plataran untuk peduli juga pada kesejahteraan hewan,” ujar Elfha Shavira, pemimpin kampanye Act for Farmed Animals dalam rilisnya, Kamis (9/10/2025).
Sayangnya, bukannya menyambut pesan damai itu, staf Plataran justru menutupi logo perusahaan dengan kain dan menurunkan baliho yang memuat identitas mereka.
Sikap defensif ini makin mempertebal kesan bahwa Plataran masih enggan membuka diri terhadap isu kesejahteraan hewan.
Empat Tahun Menunggu Komitmen yang Tak Kunjung Datang
AFFA mengungkapkan bahwa sejak 2020, mereka sudah berulang kali berdialog dengan manajemen Plataran untuk mengajak bergabung dalam gerakan bebas sangkar (cage-free eggs) yakni penggunaan telur dari ayam yang hidup bebas tanpa kandang sempit.
Namun hingga kini, belum ada tanggapan nyata. Padahal, lebih dari 50 perusahaan lokal dan global di Indonesia sudah menandatangani komitmen serupa demi mendukung praktik peternakan yang lebih manusiawi.
Sistem kandang sangkar sendiri dikenal sebagai salah satu praktik paling kejam di industri telur.
Ayam-ayam dikurung dalam ruang seukuran kertas A4 seumur hidupnya, tanpa bisa bertengger, mandi debu, atau sekadar merentangkan sayap.
Berbagai riset ilmiah menunjukkan dampak buruknya stres tinggi, bulu rontok, hingga tulang patah akibat tekanan hidup yang ekstrem.
Dunia Bergerak, Plataran Masih Diam
Bagi AFFA, waktu sudah habis untuk sekadar ‘pertimbangan’ publik kini menuntut aksi nyata. Tren global bergerak ke arah etika konsumsi dan kesejahteraan hewan, dan Indonesia mulai mengejar langkah itu.
“Kami berharap Plataran segera mengikuti jejak puluhan perusahaan lain yang sudah berkomitmen untuk menghapus sistem kandang sangkar,” ujar Elfha
Aktivis AFFA menutup aksi dengan doa dan harapan agar Plataran Group tak hanya ramah terhadap alam, tapi juga terhadap makhluk hidup di dalamnya. (RDN)












