Heboh Gus Ilham Cium Anak-Anak, Akhirnya Minta Maaf

Deloo.id, Jakarta – Heboh video pengurus Majelis Ta’lim Ibadallah Kediri, Muhammad Ilham Yahya Al-Maliki atau yang akrab disapa Gus Ilham, mencium anak-anak dalam sebuah kegiatan.

Aksi itu langsung menuai gelombang kecaman dari publik dan membuat nama sang ustaz muda menjadi sorotan panas di jagat maya.

Sosok yang selama ini dikenal sebagai penggerak dakwah muda di Kediri itu kini harus menelan pil pahit akibat videonya yang viral.

Dalam tayangan yang beredar luas di berbagai platform media sosial, tampak Gus Ilham mencium beberapa anak-anak kecil, yang kemudian memicu kemarahan dan rasa jijik dari banyak warganet.

Banyak pihak menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan oleh figur agama, apalagi oleh seseorang yang mengemban gelar ‘Gus’ gelar kehormatan bagi keturunan ulama.

Tak sedikit pula yang menuduhnya menyalahgunakan wibawa dan posisi keagamaan demi memuaskan hawa nafsu pribadi.

Kritik dan hujatan pun mengalir deras. Nama Gus Ilham menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.

Menyadari situasi yang kian memanas, Gus Ilham akhirnya tampil dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui video klarifikasi.

“Dengan penuh kerendahan hati, saya secara pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya video yang menimbulkan kegaduhan. Saya mengakui hal tersebut merupakan kekhilafan dan kesalahan saya pribadi,” ungkap Gus Ilham dalam pernyataannya, Rabu (12/11/2025).

Dalam klarifikasinya, Gus Ilham menegaskan bahwa ia tak berniat melakukan tindakan tak senonoh, dan anak-anak yang berada dalam video tersebut selalu dalam pengawasan orang tua masing-masing.

Ia pun mengaku telah menghapus seluruh konten terkait dari akun resmi Majelis Ta’lim Ibadallah.

“Kami sudah menurunkan seluruh konten tersebut dari akun resmi majelis. Anak-anak itu berada dalam pengawasan orang tua. Ke depan, kami akan lebih berhati-hati dan menjaga adab dalam setiap kegiatan dakwah,” ujarnya.

Kasus ini kini menjadi pelajaran besar bagi kalangan pendakwah muda untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi, terutama di era digital di mana setiap gerak-gerik dapat menjadi sorotan publik. (RDN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *