Deloo.id, Aceh Besar – Di bawah kepemimpinan Bupati Syech Muharram, Aceh Besar tengah menjalani transformasi epik: bukan sekadar kabupaten, melainkan sebuah ‘kerajaan pembangunan’.
Salah satunya agenda mendirikan kampus IPDN, menurunkan stunting secara masif, dan membangun ribuan rumah layak sebagai fondasi kebangkitan sosial.
Dalam manuver yang terencana dan sarat makna, Muharram menabur benih perubahan. Setidaknya 40 hektare tanah di Jantho telah dihibahkan untuk pembangunan kembali kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
“Ini bukan sekadar kampus. Ini adalah mahkota pendidikan yang akan mencetak kader aparatur unggul dan memperkuat pusat pemerintahan lokal Aceh Besar,” kata Muharram kepada Deloo.id di sebuah kesempatan di Bogor, Jawa Barat baru-baru ini.
Bukan hanya soal pendidikan, Muharram juga menempatkan penurunan stunting sebagai prioritas moral dan pembangunan.
Dalam peraturan bupati terbaru, dia menggerakkan seluruh gampong agar tenaga kesehatan, kader posyandu, dan penyuluh KB bersinergi untuk menurunkan angka stunting.
“Hasilnya? Ribuan anak Aceh Besar menghadapi masa depan yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih produktif,” ujarnya.
Di sisi lain, Bupati tidak lupa memperkuat pilar sosial-ekonomi melalui program ‘Aceh Besar Sejahtera’, masyarakat miskin dan usaha mikro dilibatkan dalam upaya pemberdayaan nyata.
“Uang bukan hanya bantuan, tapi modal gerak untuk kemandirian perang melawan kemiskinan melalui empowerment, bukan sekadar subsidi,” Muharram menuturkan.
Muharram juga menunjukan taring tata kelola menjalin sinergi dengan BPKP Aceh demi memastikan setiap rupiah APBD dikelola dengan transparan, akuntabel, dan berdampak.
Dia tak mau namanya diukir dalam proyek kosong hanya program yang menembus realitas masyarakat yang menjadi bukti kepemimpinannya.
Namun ambisi terbesar mungkin terletak dalam rencana pembangunan 2.000 unit rumah layak huni di Aceh Besar.
Dalam rancangan kerja OPD 2026, Muharram menegaskan bahwa rumah adalah pondasi perubahan. Pondasi fisik dan simbolik bahwa pembangunan harus disentuh hingga ke akar gampong.
Dalam gerak revolusioner ini, dia mengundang para imuem Mukim, keuchik, dan camat melalui apel akbar, menyatukan suara lokal dalam satu orkestrasi besar membangun Aceh Besar dari dasar.
“Govennya bukan monolog, melainkan simfoni partisipatif,” katanya dengan tegas.
Dengan visi besar dan energi moral yang mengepul, Syech Muharram sedang menorehkan tinta emas dalam sejarah Aceh Besar.
Jika semua programnya berjalan penuh, Aceh Besar tidak hanya menjadi kabupaten maju. Ia bisa menjadi laboratorium transformasi sosial-ekonomi di Aceh bahkan contoh bagi daerah lain di Indonesia. (RDN)












