Deloo.id, Jakarta – Seruan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh elemen bangsa mewaspadai potensi gangguan stabilitas nasional oleh kekuatan asing dinilai memiliki dasar historis yang kuat.
Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin panas, Indonesia kembali diingatkan pada fakta bahwa operasi intelijen asing bukanlah dongeng, melainkan aktivitas nyata yang telah berulang kali muncul dalam perjalanan bangsa.
“Sepanjang sejarah modern Indonesia, berbagai bentuk campur tangan asing mulai dari pendekatan diplomatik, bisnis, hingga operasi intelijen terselubung telah menjadi bagian dari dinamika hubungan antarnegara,” ungkap Anggota DPR RI Bambang Soesatyo dalam keterangan pers, Rabu (21/1/2023).
Selain diplomat dan aktor resmi, menurutnya, kehadiran tenaga asing tidak resmi atau agen intelijen juga menjadi fenomena yang diakui terjadi di hampir semua negara.
Aktivitas intelijen ini umumnya menyasar dua hal kepentingan geopolitik dan kepentingan ekonomi. “Metode yang digunakan beragam, mulai dari pengumpulan data, memanfaatkan jaringan warga lokal, hingga menyebarkan hoaks atau isu sensitif demi memicu ketegangan sosial,” ujar politisi yang disapa Bamsoet itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, peta geopolitik global memang berada pada fase paling tidak stabil.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa di kawasan Arktik, konflik berkelanjutan di Iran, perebutan pengaruh di Afrika, hingga potensi eskalasi di Amerika Utara dan Selatan menunjukkan dunia tengah berada pada titik kritis.
“Dalam kondisi seperti ini, peran komunitas intelijen asing meningkat drastis. Informasi rahasia tentang kelemahan lawan, peluang strategi, hingga potensi kekacauan menjadi komoditas yang diperdagangkan kelompok intel dari berbagai negara,” jelasnya.
Serangan balas-balasan Iran–Israel pada Juni 2025 menjadi contoh terang bagaimana operasi intelijen bekerja di balik layar ketegangan militer.
Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam serta posisinya sebagai negara besar di Asia Tenggara bukan pengecualian. Sejumlah peristiwa besar dalam sejarah bangsa menunjukkan jejak operasi asing, mulai dari tragedi 1965 hingga kerusuhan Mei 1998.
Dalam kasus 1998, misalnya, salah satu jaringan telekomunikasi yang tetap berfungsi saat situasi memburuk ternyata berada di sebuah kompleks diplomatik asing. Pertanyaan pun muncul: siapa sebenarnya yang mengendalikan aliran informasi saat itu?
“Belum lagi cerita mengenai wartawan yang pernah diperlihatkan daftar korupsi oleh seseorang yang ternyata bagian dari jaringan intelijen asing—informasi detail yang bahkan disebut berasal dari pelaku-pelakunya sendiri,” katanya.
Bahkan kunjungan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin ke Indonesia pada 1993 yang terjadi secara senyap meski tanpa hubungan diplomatik menunjukkan betapa tertutupnya operasi intelijen tingkat tinggi.
Kasus penyelundupan 5,3 juta ton bijih nikel ke Tiongkok pada 2020–2022 juga menjadi contoh bagaimana informasi dari jaringan intel asing dapat menguak kejahatan ekonomi berskala besar.
Tujuan terbesar operasi intelijen asing bukan selalu menggulingkan pemerintah. Sebaliknya, mereka biasanya ingin menciptakan instabilitas yang berlarut, menguras energi politik, sosial, dan ekonomi negara target.
Caranya? Menyebarkan hoaks, menggoreng isu SARA, membentuk polarisasi ekstrem, membangun distrust terhadap negara dan aparat, serta menggunakan media sosial sebagai senjata perang psikologis.
Mantan ketua MPR RI itu mengatakan inilah yang disebut banyak analis sebagai perang generasi kelima: perang tanpa peluru, tetapi mematikan.
“Dengan kondisi dunia yang tidak baik-baik saja, seruan Presiden Prabowo agar masyarakat tetap waspada dinilai tepat,” ia menuturkan.
Kewaspadaan ini tidak dimaksudkan untuk membungkam kritik publik karena kritik merupakan bagian dari demokrasi melainkan untuk memastikan bahwa dinamika dalam negeri tidak dimanfaatkan pihak asing untuk menciptakan kekacauan.
Menjaga stabilitas nasional menjadi prioritas, apalagi ketika eskalasi geopolitik global sedang berada pada titik berbahaya.
Indonesia, dengan semua potensi dan kompleksitasnya, harus tetap cerdas, waspada, dan bersatu agar tidak menjadi korban operasi intelijen yang memanfaatkan isu domestik untuk kepentingan asing. (BYD)












