Deloo.id, Jakarta – Dalam kurun 24 jam terakhir, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 26 kejadian bencana, dengan 13 di antaranya berdampak signifikan terhadap masyarakat di berbagai wilayah Tanah Air.
Fenomena alam ini disebut dipicu oleh dinamika atmosfer dan suhu muka laut yang hangat, yang memicu pembentukan awan hujan intens di sejumlah daerah.
BMKG bahkan memperingatkan potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang di sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Sementara itu, wilayah timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku justru masih bergulat dengan kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) akibat minimnya curah hujan.
Angin Kencang Terjang Mojokerto, Puluhan Rumah Rusak
Di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, angin kencang pada Kamis (9/10) sore merusak 47 rumah di dua kecamatan dan empat desa.
Sebanyak 47 kepala keluarga terdampak dan satu orang mengalami luka-luka. BPBD bersama unsur TNI, Polri, dan relawan masih melakukan evakuasi serta pembersihan puing-puing rumah warga.
Masih di Jawa Timur, gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut pada Kamis (2/10) menimbulkan kerusakan besar di enam kabupaten dan satu kota. Sedikitnya tiga orang terluka, lebih dari 500 rumah rusak, dan 1.300 warga mengungsi.
Pemerintah Kabupaten Sumenep bahkan telah menetapkan status tanggap darurat hingga 3 November 2025, dengan dukungan langsung dari BNPB.
Tragedi Sidoarjo: 61 Korban Jiwa, Proses Identifikasi Masih Berlanjut
Bangunan roboh di Kabupaten Sidoarjo pada Minggu (6/10) menjadi sorotan nasional. Dari 61 korban meninggal dunia, 48 jenazah dan dua body part sudah teridentifikasi.
Proses pencarian dan identifikasi masih berlangsung dengan pendampingan langsung dari Kepala BNPB dan jajaran Kedeputian Penanganan Darurat.
Gunung Lewotobi Kembali Erupsi, Ribuan Warga Mengungsi
Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, NTT, kembali meningkat. Gunung ini meletus pada Kamis (9/10) pukul 20.53 WITA, memuntahkan kolom abu kelabu pekat dan lontaran material pijar.
Sebanyak 807 kepala keluarga (3.131 jiwa) masih mengungsi, sementara status gunung tetap di Level III (Siaga).
Karhutla di Kalimantan Tengah Meluas, Lebih dari 1.000 Hektare Terbakar
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah yang telah berlangsung sejak Juli kini makin meluas. Sedikitnya 1.000 hektare lahan terbakar di 13 kabupaten dan satu kota.
Status Siaga Darurat masih berlaku hingga 20 Oktober 2025, sementara tim gabungan BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat terus berjibaku memadamkan api di titik-titik baru yang muncul akibat angin kering dan suhu tinggi.
Banjir Bandang Nagekeo, Enam Warga Tewas dan Puluhan Rumah Hanyut
Bencana banjir bandang di Kabupaten Nagekeo, NTT, yang terjadi pada Selasa (1/10), meninggalkan luka mendalam. Enam orang meninggal, tiga hilang, dan 22 lainnya luka-luka.
Puluhan rumah hanyut, jembatan rusak, dan akses jalan terputus. Proses rehabilitasi dan distribusi logistik terus dilakukan agar warga terdampak bisa kembali bangkit.
Kekeringan di Jawa Tengah, Ribuan Warga Kekurangan Air
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Sragen dan Klaten, Jawa Tengah. Sejak awal September, ribuan warga terdampak kekeringan akibat rendahnya curah hujan.
BPBD bersama pemerintah daerah menyalurkan ratusan tangki air bersih setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
BNPB Imbau Warga Tetap Siaga
Melihat tren meningkatnya kejadian bencana, BNPB mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap ancaman banjir, longsor, angin kencang, dan cuaca ekstrem lainnya.
Sementara untuk wilayah selatan dan timur, ancaman kekeringan serta karhutla masih berpotensi meningkat.
“BNPB bersama BPBD, TNI, Polri, serta instansi terkait terus mempercepat penanganan darurat dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” ujar Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. (RDN)












