Dua Partai Baru ‘Booking’ Pilpres 2029: Sinyal Pertarungan Dimulai

Deloo.id, Jakarta – Dua partai baru yang baru saja muncul di panggung nasional langsung mengunci arah dukungan untuk Pemilihan Presiden 2029.

Partai Gema Bangsa mendeklarasikan dukungan terhadap Prabowo Subianto, sementara Partai Gerakan Rakyat memilih merapat ke Anies Baswedan.

Fenomena ini oleh pengamat politik Arifki Chaniago dibaca sebagai gejala baru dalam dinamika demokrasi Indonesia: era ‘early booking’ Pilpres, ketika partai yang bahkan belum mengikuti verifikasi formal sudah lebih dulu mengikat dukungan terhadap figur presiden.

“Ini bukan sekadar deklarasi. Ini strategi branding. Partai baru kini tidak lagi menjual ideologi, tetapi menjual posisi: mereka berdiri di kubu siapa,” ujar Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia dalam keterangan pers yang diterima redaksi Deloo.id, Senin (19/1/2026).

Menurut Arifki, munculnya dua partai baru dengan arah dukungan yang eksplisit menandakan pergeseran fungsi partai politik.

Jika dulu partai menjadi ruang kaderisasi dan penyusunan gagasan, kini sebagian partai lahir justru sebagai kendaraan elektoral yang dibangun untuk tokoh tertentu.

Capres bukan lagi hasil dari proses internal partai melainkan fondasi kelahiran partai itu sendiri.

Ia menilai, deklarasi cepat ini juga merupakan strategi untuk mencuri perhatian di tengah padatnya kompetisi politik. Dengan banyaknya figur dan partai yang berkontestasi, partai baru memilih jalan pintas: mengaitkan diri pada tokoh yang sudah memiliki pasar politik.

“Pilpres 2029 diperlakukan seperti konser besar dengan tiket yang dijual dari sekarang. Siapa cepat memesan panggung, dia yang lebih dulu terlihat,” kata Arifki.

Meski begitu, strategi “mengunci figur” sejak dini dianggap memiliki risiko jangka panjang. Ketika identitas partai melekat terlalu kuat pada satu tokoh, posisi tawar partai bisa runtuh jika terjadi perubahan peta politik.

Ruang diskusi kebijakan pun berpotensi menipis karena tergerus oleh narasi personalisasi politik yang berkepanjangan.

Arifki juga menyoroti dampak lain meningkatnya intensitas kontestasi sejak jauh hari.

“Polarisasi tidak lagi muncul menjelang pemilu, tetapi bisa menjadi latar tetap dalam dinamika politik sehari-hari. Siklus politik kita makin pendek, kampanye makin panjang,” jelasnya.

Ia menutup pandangan dengan imbauan agar publik memahami bahwa geliat politik menuju Pilpres 2029 sudah dimulai, meski kalender pemilu masih jauh.

“Secara waktu, Pilpres 2029 belum dekat. Namun secara politik, pertandingan sudah berjalan. Siapa cepat menyiapkan kendaraan, dialah yang lebih siap memasuki arena,” pungkasnya. (BYD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *