Geopolitik Dunia Memanas, Stafsus KASAD Ingatkan Indonesia Perkuat ‘Imunitas Bangsa’ Hadapi Ancaman Global

Deloo.id, Jakarta – Perkembangan geopolitik global yang semakin dinamis dan penuh ketidakpastian dinilai menjadi tantangan serius bagi stabilitas banyak negara, termasuk Indonesia.

Staf Khusus KASAD Letjen I Nyoman Cantiasa, mengingatkan pentingnya memperkuat kewaspadaan nasional sebagai langkah strategis untuk menghadapi berbagai ancaman global yang kian kompleks.

Peringatan tersebut disampaikan Nyoman saat memberikan ceramah kepada para peserta Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVII yang berlangsung di Ruang Bhinneka Tunggal Ika, Gedung Pancagatra, Jakarta, baru-baru ini.

Dalam paparannya, Nyoman menegaskan bahwa kewaspadaan nasional bukan sekadar konsep teoritis, melainkan sebuah sistem kesiapsiagaan negara yang harus mampu mendeteksi potensi ancaman sejak dini, melakukan langkah antisipasi, hingga mencegah berbagai risiko yang dapat mengganggu stabilitas bangsa.

“Kewaspadaan nasional menuntut kesiapan dan kesiapsiagaan negara untuk mendeteksi, mengantisipasi, serta mencegah berbagai potensi ancaman sebelum berkembang menjadi krisis yang lebih besar,” ujarnya di hadapan para peserta pendidikan kepemimpinan nasional tersebut.

Dunia Memasuki Era Geopolitik yang Tidak Stabil

Menurut Nyoman, dunia saat ini telah memasuki fase geopolitik yang berbeda dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Jika sebelumnya hubungan internasional relatif stabil, kini dunia bergerak menuju fase volatilitas tinggi yang ditandai dengan konflik, rivalitas kekuatan besar, serta ketidakpastian ekonomi global.

Salah satu contoh nyata adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ketegangan tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memengaruhi perekonomian global.

Gangguan terhadap jalur pelayaran internasional, misalnya, membuat sejumlah kapal dagang harus memutar rute perjalanan melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Perubahan jalur ini membuat waktu pelayaran menjadi lebih lama hingga sekitar dua minggu dibandingkan rute normal.

Kondisi tersebut secara otomatis meningkatkan biaya logistik dan pengiriman barang. Dampak lanjutannya adalah terganggunya rantai pasok global serta potensi kenaikan harga energi, khususnya minyak dunia.

“Jika biaya pelayaran meningkat dan rantai pasok terganggu, maka dampaknya bisa dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia,” jelas Wakil Kepala Badan Inteijen Negara (BIN) periode 2023-2024 itu.

Kewaspadaan Nasional sebagai ‘Imunitas Bangsa’

Dalam ceramahnya, Nyoman mengibaratkan kewaspadaan nasional sebagai sistem kekebalan tubuh bagi sebuah negara. Tanpa sistem perlindungan yang kuat, sebuah negara akan mudah terpengaruh oleh tekanan eksternal maupun konflik internal.

Karena itu, ia menilai bahwa kewaspadaan nasional harus terus diperkuat melalui peningkatan kesadaran strategis di berbagai sektor.

Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain membangun sense of crisis dan sense of urgency di kalangan pemimpin nasional, memperkuat sistem intelijen, meningkatkan efektivitas diplomasi internasional, serta memperkuat sinergi antar lembaga negara.

Selain itu, kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi juga menjadi bagian penting dari ketahanan nasional, terutama di era digital yang sarat dengan arus informasi dan potensi disinformasi.

Indonesia Perlu Perkuat Posisi Strategis di Dunia

Lebih lanjut, Nyoman menilai bahwa Indonesia perlu memperkuat posisi strategisnya dalam percaturan geopolitik global. Pendekatan politik luar negeri bebas aktif tetap relevan, namun harus dilengkapi dengan strategi yang lebih adaptif terhadap perubahan global.

Menurut mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus tersebut, Indonesia perlu mengambil posisi sebagai kekuatan penyeimbang di tengah rivalitas global.

Konsep netralitas aktif, kata dia, dapat menjadi pendekatan strategis bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus meningkatkan daya tawar dalam hubungan internasional.

Dengan letak geografis yang strategis di jalur perdagangan dunia serta kekayaan sumber daya alam yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan geopolitik regional.

Belajar dari Krisis Sri Lanka

Dalam kesempatan itu, Nyoman juga mengajak para peserta P3N untuk belajar dari pengalaman negara lain yang pernah mengalami krisis besar.

Ia menyinggung kondisi yang pernah dialami Sri Lanka, yang mengalami keruntuhan ekonomi dan ketidakstabilan politik dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, krisis tersebut menunjukkan bahwa kegagalan dalam mengelola kebijakan nasional dan kewaspadaan strategis dapat membuka ruang bagi tekanan eksternal serta kepentingan asing.

“Pertanyaannya, apa refleksi yang bisa kita ambil untuk Indonesia?” ujarnya kepada para peserta.

Strategi DIME untuk Ketahanan Nasional

Sebagai penutup, Nyoman menawarkan pendekatan strategis dalam memperkuat ketahanan negara melalui konsep DIME (Diplomacy, Intelligence, Military, Economy).

Konsep ini menekankan pentingnya integrasi empat instrumen utama negara, yakni diplomasi, intelijen, militer, dan ekonomi, dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

Menurutnya, jika keempat elemen tersebut mampu berjalan secara sinergis, Indonesia akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas nasional serta mempertahankan kedaulatan negara di tengah persaingan global.

“Kewaspadaan nasional harus berfungsi sebagai sistem peringatan dini agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi konflik internal,” pungkasnya. (BYD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *