Inggris Puji Langkah Hijau Indonesia, Raja Charles Turun Tangan

Deloo.id, Jakarta – Inggris menegaskan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu mitra paling strategis dalam agenda global terkait iklim, energi, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Hal itu ditegaskan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, dalam sesi wawancara dengan media mengenai peluncuran Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Keir Starmer.

“Kerjasama antara kedua negara kini memasuki fase yang jauh lebih komprehensif, terutama pada pilar iklim, energi, dan alam bidang yang dinilai menjadi pusat gravitasi hubungan bilateral ke depan,” ungkap Jermey dalam video wawancara yang diterima langsung ke redaksi Deloo.id, Senin (19/1/2026).

Dubes Jermey memaparkan bahwa London telah menyiapkan berbagai skema dukungan konkret untuk mempercepat transformasi hijau Indonesia.

Salah satunya adalah keterlibatan langsung Raja Charles III, yang dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo dalam pembahasan konservasi gajah dan pemulihan penghidupan masyarakat di Aceh dan Sumatera.

“Ada begitu banyak bidang kolaborasi terkait iklim dan alam termasuk keterlibatan Presiden dengan Yang Mulia Raja dalam mendukung konservasi gajah dan memulihkan penghidupan di Sumatera dan Aceh,” ujar Jermey.

Inggris juga menggerakkan MELAJU, platform infrastruktur berkelanjutan yang menggabungkan keahlian perusahaan-perusahaan Inggris untuk membantu Indonesia mewujudkan pembangunan transportasi, bangunan, dan perkotaan yang lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, program MENTARI, salah satu proyek kerja sama energi terbarukan paling sukses antara kedua negara, disebut menjadi tulang punggung ambisi Indonesia untuk berubah dari negara penyumbang karbon menjadi penyerap karbon bersih.

“Ini adalah bagian penting dari transisi energi Indonesia menuju masa depan energi terbarukan,” tegas Jermey.

Dalam konteks ekonomi, lanjut dia, Inggris melihat Indonesia sebagai mitra jangka panjang yang sangat vital. Namun, angka perdagangan kedua negara selama ini dinilai belum sepadan dengan potensi yang ada.

“Indonesia adalah ekonomi terbesar ke-16 dunia, sementara Inggris di posisi ke-6. Tetapi Indonesia baru menjadi pasar ekspor Inggris di urutan ke-54. Ini tidak mencerminkan potensi sebenarnya,” kata Jermey.

Untuk itu, kedua pemimpin negara akan meluncurkan kemitraan pertumbuhan ekonomi, paket kerja sama besar yang ditujukan membuka peluang investasi, memperluas perdagangan, dan memperkuat hubungan bisnis lintas sektor.

Dalam kesempatan tersebut, Jermey juga mengisyaratkan peluang kunjungan Perdana Menteri Keir Starmer ke Indonesia. Menurutnya, peluang itu sangat besar hanya tinggal menunggu undangan resmi dari Presiden Prabowo.

“Saya sangat berharap Presiden Prabowo mengundang beliau, dan bahwa undangan tersebut benar-benar mewujudkan sebuah kunjun³gan,” katanya. (BYD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *