Deloo.id, Jakarta – Di tengah derasnya arus opini publik internasional, Pemerintah Republik Islam Iran akhirnya buka suara soal dinamika sosial dan ekonomi yang terjadi di Tehran pada Minggu, 28 Desember 2025.
Melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Iran menegaskan bahwa apa yang berkembang di media sebagai kerusuhan sejatinya merupakan unjuk rasa damai para pelaku usaha dan pekerja yang terdampak fluktuasi nilai tukar.
Aksi tersebut muncul setelah nilai Rial bergejolak dan memicu kekhawatiran di kalangan pedagang, pengusaha, dan pekerja sektor informal.
Mereka turun ke jalan bukan untuk menciptakan kekacauan, melainkan menyuarakan keresahan atas menurunnya daya beli dan stabilitas pasar.
Sejak dimulai, demonstrasi berlangsung tenang, tertib, dan berorientasi pada tuntutan ekonomi. Para peserta memilih jalur kooperatif: menyampaikan aspirasi tanpa mengganggu ketertiban umum. Tidak ada aksi anarkis, tidak ada benturan, tidak ada kerusuhan.
Kedutaan Besar Iran menegaskan bahwa pemerintah pusat menghormati dan melindungi hak konstitusional warganya, termasuk kebebasan berekspresi dan hak berunjuk rasa secara damai, sesuai komitmen internasional seperti Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR).
“Seluruh institusi terkait telah menampung aspirasi publik dan menggunakan kewenangan yang ada untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut,” tulis pernyataan resmi dari Kedubes. Iran di Indonesia yang dikirim ke redaksi Deloo.id, Rabu (14/1/2026).
Dengan penjelasan resmi ini, Iran berharap isu yang berkembang di negara sahabat termasuk Indonesia dapat kembali berada pada koridor fakta, bukan persepsi yang dipelintir.
Pemerintah menekankan bahwa dinamika ekonomi tengah dihadapi secara serius melalui langkah-langkah stabilisasi pasar dan kebijakan penyeimbang.
Sementara itu, wacana perbaikan dan respons kebijakan ekonomi diperkirakan akan terus bergulir, seiring pemerintah Iran berupaya menenangkan pasar dan mengembalikan kepercayaan masyarakat. (RDN)












