Kowani Menuju Seabad, Perempuan Indonesia Satukan Optimisme

Deloo.id, Jakarta – Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bersama pimpinan puluhan organisasi anggotanya menggelar rapat koordinasi nasional.

Mengusung tema besar ‘Optimisme Perempuan Menuju 100 Tahun Kowani dan Indonesia Emas 2045’, forum ini menjadi momentum penting konsolidasi gerakan perempuan di tengah dinamika internal organisasi.

Rapat koordinasi tersebut dihadiri pimpinan dari berbagai organisasi anggota Kowani dan dirangkaikan dengan kegiatan edukasi, termasuk preview film Suamiku, Lukaku serta diskusi terbuka mengenai isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Agenda ini menegaskan komitmen Kowani untuk tetap hadir sebagai ruang advokasi, edukasi, dan perlindungan perempuan.

Kowani yang berdiri sejak 1928 kini menaungi 118 organisasi perempuan dari seluruh Indonesia. Federasi perempuan tertua dan terbesar di Tanah Air ini didirikan atas inisiasi tiga organisasi pendiri, yakni Aisyiyah, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), dan Wanita Taman Siswa (WTS).

Dalam sambutannya, Ketua Kowani Dr. dr. Hj. Ulla Nuchrawaty, M.M., menegaskan bahwa rapat koordinasi ini digelar untuk mencari jalan keluar atas persoalan internal yang telah berlangsung hampir setahun terakhir.

“Bangsa ini memiliki organisasi perempuan tertua dan terbesar, Kowani. Ia adalah pilar bangsa yang telah melahirkan tokoh-tokoh perempuan berkaliber nasional dan internasional. Negara bisa terancam bila kita diam. Maka kita harus memilih yang terbaik dari yang terbaik,” ujar Ulla beberapa waktu lalu di Hotel Sultan, Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa konflik internal pasca terpilihnya kepengurusan Dewan Pengurus Kowani telah berlangsung selama 12 bulan, termasuk munculnya mosi tidak percaya dari 19 anggota Dewan Pengurus terhadap Ketua Umum Kowani pada November 2025.

Ulla menegaskan bahwa Kongres Luar Biasa (KLB) menjadi satu-satunya langkah konstitusional dan bermartabat untuk mengakhiri konflik, dengan agenda utama perbaikan dan penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

“Tidak ada jalan lain. Jalan yang legal, lurus, dan tidak meninggalkan residu adalah Kongres Luar Biasa. KLB adalah tugas untuk memperbaiki dan menyempurnakan AD/ART organisasi,” tegasnya.

Menurut Ulla, konflik yang berkepanjangan berpotensi mencoreng citra Indonesia di mata dunia, mengingat Kowani merupakan representasi Indonesia dalam International Council of Women (ICW).

Dukungan terhadap pelaksanaan KLB juga datang dari unsur organisasi pendiri. Sri Yoeliati Sugiri dari Wanita Taman Siswa (WTS) menegaskan bahwa Kowani harus dipertahankan sebagai aset strategis bangsa.

“Selama 97 tahun Kowani berkiprah, belum pernah terjadi persoalan seperti ini. Tahun ini adalah ujian besar. Kowani harus kita selamatkan sebagai aset negara,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya meluruskan sejarah pendirian Kowani yang menurutnya kerap disalahartikan.

“Kowani didirikan oleh tiga organisasi perempuan: Aisyiyah, WKRI, dan WTS. Bukan yang lain,” tegas Sri Yoeliati.

Hingga kini, dukungan dari organisasi anggota Kowani untuk segera melaksanakan Kongres Luar Biasa terus mengalir.

Rencananya, KLB akan digelar dalam waktu dekat pada Januari 2026, sebagai langkah penyelamatan organisasi menjelang 100 tahun Kowani dan peran strategis perempuan dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. (BGE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *