‘Para Perasuk’ Go Internasional Tembus Sundance 2026

Deloo.id, Jakarta –  Film ‘Para Perasuk’ garapan sutradara Wregas Bhanuteja resmi terpilih di ajang internasional Sundance Film Festival 2026 sebagai festival film independen terbesar dan di Amerika Serikat.

‘Para Perasuk’ sukses menembus kategori paling bergengsi untuk film non-AS: World Cinema Dramatic Competition dan siap berkompetisi dengan ribuan sineas dunia.

Dari 16 ribu film dari 164 negara, hanya 10 karya internasional yang terpilih. ‘Para Perasuk’menjad satu-satunya perwakilan Indonesia.

“Ini benar-benar tak terbayangkan. Saya sampai terlambat ke kantor karena bangun tidur langsung melihat emailnya, dan deg-degan banget,” ungkap Wregas Bhanuteja yang masih terkejut menerima kabar tersebut saat ditemui di Grand Indonesia, Kamis (11/12/2025).

‘Para Perasuk’ alias ‘Levitating’ menyuguhkan warga desa melakukan tradisi kerasukan yang menjari warisan leluhur. Di tengah tradisi itu, muncul sosok Bayu diperankan Angga Yunanda, seorang perantara roh yang bercita-cita menjadi dukun demi menyelamatkan desanya dari ancaman penggusuran.

Bayu memiliki sebuah seruling mistis yang mampu mengundang makhluk dari alam lain untuk merasuki para penari yang membuka hati. Namun rongrongan modernisasi membuat kekuatan Bayu goyah. Ia dipaksa menyeimbangkan dunia gaib dan dunia nyata agar para perasuk tetap aman.

Film ini juga melibatkan artis nasional Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Bryan Domani, dan Chicco Kurniawan. Dalam poster, Maudy tampil dramatis dengan pose kerasukan di tengah para pemeran lain yang menegaskan aura supernatural yang kuat.

Bagi Anggun, film ini menjadi debut akting layar lebarnya di Indonesia. Sebelumnya ia bermain dalam FTV Prancis Coup de foudre à Bangkok (2020) dan mengisi suara tokoh Virana dalam film Disney Raya and The Last Dragon.

Setelah sukses lewat Penyalin Cahaya (2021) dan Budi Pekerti (2023), Para Perasuk menjadi film panjang ketiga Wregas, namun yang pertama mengangkat tema drama supernatural.

Sang produser Iman Usman mengungkapkan kebanggaan atas pencapaian ini.

“Di kompetisi ini hanya ada 10 film internasional non-Amerika yang dipilih dari 16 ribu submission. Dan satu-satunya dari Indonesia adalah Para Perasuk. Ini momen luar biasa,” cetus Iman menanggapi.

Meski sukses menembus panggung dunia, Iman menegaskan film ini tetap dibuat untuk penonton tanah air. “Festival itu bonus. Prioritas kami tetap penonton Indonesia,” katanya.

Hingga kini, tanggal resmi perilisan Para Perasuk di bioskop Indonesia belum diumumkan. Namun pihak studio memastikan film tersebut tayang sepanjang 2026.

Dengan pencapaian monumental ini, Para Perasuk bukan sekadar film, ia menjadi simbol bahwa sinema Indonesia tengah berdiri tegak di panggung global, menembus batas budaya hingga ke jantung industri perfilman dunia. (RDN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *