Sengketa Lahan di Muaro Bodi, Warga Patah Kaki dan Keguguran

Deloo.id, Sijunjung – Aksi unjuk rasa warga terkait penolakan sengketa lahan di Nagari Muaro Bodi, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, berubah menjadi kericuhan yang memicu gelombang amarah publik, Rabu (12/11).

Warga menuding aparat gabungan yang terdiri dari Satpol PP dan kepolisian bertindak represif hingga menyebabkan jatuhnya korban luka.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, tampak sejumlah warga berlarian menyelamatkan diri di tengah aksi dorong-dorongan dengan aparat.

Isu paling mencengangkan pun mencuat seorang pemuda disebut mengalami patah kaki, sementara seorang wanita hamil muda dikabarkan keguguran akibat insiden tersebut.

“Demo awalnya damai, kami hanya menuntut kejelasan tanah yang selama ini digarap warga. Tapi tiba-tiba petugas datang membawa tameng dan membubarkan massa dengan keras,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.

Kabar dugaan kekerasan itu sontak menjadi perbincangan hangat dan memantik gelombang kecaman di dunia maya. Tagar #MuaroBodiMemanas bahkan sempat ramai di jagat X (Twitter) dan Facebook.

Meski begitu, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sijunjung maupun Polda Sumatera Barat terkait kronologi pasti dan jumlah korban dalam aksi tersebut.

Beberapa akun media lokal menyebut situasi sempat memanas sebelum akhirnya aparat berhasil membubarkan massa.

Pengamat sosial dari Universitas Andalas, Dr. Ramdhan Hakim, menilai kejadian ini menjadi cermin betapa konflik agraria masih menjadi luka lama yang belum sembuh di Sumatera Barat.

“Jika benar terjadi kekerasan terhadap warga sipil, ini adalah alarm keras bagi aparat untuk meninjau ulang pendekatan keamanan. Negara seharusnya hadir sebagai penengah, bukan sebagai pihak yang menimbulkan ketakutan,” tegas Ramdhan.

Sementara itu, warganet menyerukan agar aparat penegak hukum segera menyelidiki insiden tersebut dan memberikan klarifikasi resmi kepada publik.

Hingga kini, situasi di Muaro Bodi dilaporkan telah kondusif, namun bayang-bayang trauma dan kemarahan warga masih terasa. Masyarakat berharap keadilan bisa ditegakkan tanpa harus ada korban berikutnya. (RDN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *