Teror Aktivis BEM UI Ancaman Serius bagi Kebebasan Kampus

Deloo.id, Jakarta – Gelombang teror yang menimpa sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI), termasuk pengurus terpilih Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), memicu keprihatinan mendalam dari Amnesty International Indonesia.

Serangkaian ancaman fisik, doksing, pengiriman paket misterius hingga upaya peretasan dinilai sebagai sinyal bahaya bagi kebebasan berekspresi dan demokrasi kampus.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menegaskan bahwa pola teror terhadap aktivis UI memiliki kesamaan dengan intimidasi yang sebelumnya dialami aktivis Greenpeace dan sejumlah influencer yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

“Teror ke aktivis BEM mengancam kebebasan di kampus dan meredam gerakan mahasiswa dalam mengawal pemerintahan. Ini bukan perkara Pemira semata, tetapi indikasi upaya melemahkan gerakan masyarakat sipil,” ujar Usman dalam keterangan pers yang diterima redaksi Deloo.id, Rabu (21/1/2026).

Informasi yang dihimpun Amnesty mengungkap bentuk-bentuk teror yang dialami mahasiswa UI sejak berakhirnya Pemilihan Raya (Pemira) UI 2026:

1. Project Officer Pemira Jadi Target Teror

Sehari setelah Grand Closing Pemira pada 12 Januari, seorang Project Officer (PO) Pemira menerima pesan intimidasi lewat WhatsApp, ancaman agar tidak mendukung salah satu paslon, kiriman kardus berisi tuntutan memenangkan paslon tertentu.

“Ancaman ‘balasan’ bila tuntutan tidak dipenuhi PO bahkan mengalami teror fisik di area kampus pada dini hari 13 Januari,” katanya.

Seorang pria tak dikenal menodongkan pistol sambil menghardik “Awas aja lu macam-macam!”

2. Ketua BEM UI Terpilih Mendapat Ancaman Pembunuhan

Ketua BEM terpilih, berinisial YMI, melaporkan upaya peretasan WhatsApp, peretasan akun WA milik kakaknya, kiriman foto bernada teror agar YMI mundur, ancaman pembunuhan eksplisit, kiriman paket COD topeng bernilai Rp 600 ribu-Rp 1,8 juta

3. Wakil Ketua BEM Jadi Sasaran Ilustrasi Eksekusi

Wakil Ketua BEM terpilih, FA, turut menjadi target nomor ayahnya diretas untuk menyebarkan video ancaman, ilustrasi dirinya digambarkan sebagai target eksekusi, dua paket misterius berisi alat pemotong dan kursi roda

4. Mahasiswa Lain Ikut Terseret

Setidaknya dua mahasiswa UI yang hanya me-retweet isu Pemira pun mengalami serangan doksing, kiriman paket tak dikenal, amnesty: “Teror Ini Tujuannya Efek Gentar, Ini Berbahaya!”

Usman Hamid menilai pola ancaman ini bagian dari operasi yang ingin menciptakan efek takut di kalangan mahasiswa.

“Kampus seharusnya tempat paling aman untuk berpikir kritis. Jika demokrasi kampus ditakut-takuti, kebebasan akademik akan mati pelan-pelan,” tegas Usman.

Amnesty menilai munculnya kembali praktik pembungkaman kritik seperti isu ‘penghinaan presiden’ dan ‘penghinaan lembaga negara’ menunjukkan regresi kebebasan sipil.

Pihak Rektorat UI telah membentuk tim investigasi gabungan sekaligus mendampingi mahasiswa untuk melapor ke polisi.

Namun Usman menegaskan bahwa upaya kampus tidak boleh menggantikan tanggung jawab negara. “Investigasi UI tidak cukup. Pemerintah harus mengungkap pelaku dan dalang teror ini,” ia menandaskan.

Dengan eskalasi teror yang semakin mengarah pada ancaman pembunuhan, Amnesty mengingatkan bahwa demokrasi kampus berada di ujung tanduk. Jika dibiarkan, efeknya bukan hanya bagi UI, tetapi seluruh gerakan mahasiswa di Indonesia. (BYD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *