Deloo.id, Jakarta – Amerika Serikat dan Indonesia menegaskan komitmen strategis dalam memperkuat keamanan ruang siber kawasan Indo-Pasifik melalui Diskusi Kebijakan Ruang Siber AS–Indonesia yang resmi ditutup hari ini.
Forum tingkat tinggi ini mempertemukan pejabat senior, pakar teknis, serta pemangku kepentingan dari kedua negara guna merespons ancaman siber yang kian kompleks dan lintas batas.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin Wakil Asisten Menteri Luar Negeri AS bidang Bantuan Keamanan Kawasan dan Diplomasi Publik Biro Asia Timur dan Pasifik, Robert Koepcke, yang menekankan pentingnya kolaborasi strategis antara Washington dan Jakarta dalam menangani kejahatan siber, termasuk penipuan daring dan serangan ransomware.
Turut mendampingi, Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar AS di Jakarta, Peter Haymond, menyoroti kuatnya fondasi kerja sama siber bilateral yang telah terbangun selama beberapa tahun terakhir.
“Penipuan daring, ransomware, dan serangan siber merugikan masyarakat luas dan mengancam stabilitas ekonomi. Bersama Indonesia, kami membangun benteng pertahanan untuk melindungi warga dan masa depan ekonomi digital,” ujar Haymond, Rabu (28/1/2026).
Sebagai bukti nyata komitmen tersebut, Amerika Serikat mengumumkan tambahan bantuan keamanan siber senilai 10 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp160 miliar untuk Indonesia.
Bantuan ini merupakan implementasi dari Nota Kesepahaman Keamanan Siber bilateral serta bagian dari penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif AS–Indonesia.
Program bantuan tersebut akan difokuskan pada empat pilar utama, yakni Pertama, Transfer Keunggulan Siber Amerika di mana pakar keamanan siber dari perusahaan teknologi Amerika akan melatih aparat pemerintah Indonesia serta membekali mereka dengan perangkat mutakhir untuk menghadapi ancaman digital dari aktor asing.
Kedua, Perlindungan Infrastruktur Vital Nasional ketika penguatan sistem pertahanan siber ditujukan untuk menjaga infrastruktur strategis Indonesia agar tetap aman dari serangan yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan perdagangan global.
Ketiga, Pemberantasan Kejahatan Siber Lintas Negara melalui kerja sama penegakan hukum kedua negara akan ditingkatkan untuk membongkar jaringan kejahatan siber terorganisasi yang kerap menargetkan warga Indonesia dan Amerika Serikat.
Keempat, Penguatan Stabilitas Kawasan Indo-Pasifik berupa kolaborasi yang lebih erat dengan negara-negara Asia Tenggara diharapkan mampu meningkatkan ketahanan siber kawasan demi menciptakan Indo-Pasifik yang aman, stabil, dan makmur.
Amerika Serikat menyatakan siap melanjutkan dialog strategis dengan Indonesia guna memperluas kerja sama keamanan siber ke depan.
“Kemitraan ini diyakini menjadi fondasi penting dalam menjaga kedaulatan digital, melindungi masyarakat, serta menopang pertumbuhan ekonomi digital kedua negara,” Haymond menambahkan. (BGE)












