Deloo.id, Jakarta – Ucapan tegas Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian soal pemda yang berani meminta tambahan anggaran meski realisasi belanja masih rendah, mendadak jadi buah bibir publik.
Pidato blak-blakan Tito di IPDN Jatinangor, yang menyinggung akan ‘mengetok kepala’ pejabat daerah yang tidak becus membelanjakan anggaran, viral di media sosial dan menuai badai dukungan dari netizen.
“Kalau pendapatan tinggi tapi belanja rendah, masih berani minta uang tambahan? Ya digetok kepalanya,” ujar Tito disambut tawa sekaligus tepuk tangan dari para peserta forum nasional keuangan daerah itu belum lama ini.
Pernyataan yang disampaikan pada Senin (27/10/2025) tersebut dianggap sebagai tamparan keras bagi pemerintah daerah yang malas eksekusi anggaran.
Banyak daerah diketahui hanya sibuk menyerap dana pusat, tapi gagal menyalurkan kembali untuk kepentingan publik.
Poin Utama Teguran Mendagri
- Efisiensi belanja penting, terutama di pos-pos birokrasi yang sering boros seperti rapat, perjalanan dinas, dan pemeliharaan operasional.
- Permintaan anggaran tambahan tidak bisa menjadi norma jika aset dan belanja belum dipakai secara optimal.
- Kondisi fiskal nasional menuntut respons cepat dari daerah atas penyesuaian anggaran pusat dan kondisi ekonomi makro.
Langkah Tito ini dinilai sejalan dengan strategi efisiensi fiskal yang tengah digencarkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang baru-baru ini menegaskan bahwa pemerintah pusat akan memangkas alokasi tambahan dana transfer daerah jika kinerja belanja pemda tidak membaik.
Menkeu Purbaya sebelumnya menyoroti rendahnya penyerapan anggaran yang menimbulkan ‘efek uang menganggur’ di kas daerah.
“Dana itu bukan untuk disimpan. Kalau tidak dibelanjakan dengan cepat dan tepat, maka multiplier effect ke ekonomi nasional tidak akan terasa,” ungkap Purbaya beberapa waktu lalu.
Kebijakan Tito dan Purbaya kini dipandang sebagai duet reformasi fiskal nasional, di mana Kemendagri menekan sisi tata kelola dan Menkeu memperkuat sisi fiskal.
Analis ekonomi publik menilai, jika langkah ini konsisten, Indonesia bisa menghemat triliunan rupiah dari anggaran menguap tanpa realisasi.
Dukungan Netizen
Rekaman pidato Tito yang tersebar di platform X (Twitter), Instagram, dan TikTok langsung dibanjiri komentar positif. Warganet menilai Tito Karnavian adalah salah satu pejabat yang berani bicara jujur dan tanpa basa-basi.
“Akhirnya ada pejabat yang ngomong terus terang! Banyak pemda cuma pamer anggaran tapi gak bisa eksekusi,” tulis akun @rakyatjelas.
“Salut sama Pak Tito, sudah waktunya pejabat daerah digetok kalau gak kerja. Uang rakyat bukan buat disimpan di bank!” tulis akun @indonesiabangkit.
“Kalimatnya keras tapi benar. Pemda harus malu, rakyat butuh realisasi bukan alasan,” tambah akun @ekonomirakyat.
Menurut data Kemendagri, hingga triwulan III tahun 2025, rata-rata serapan APBD nasional baru mencapai 56%, padahal dana transfer daerah dari pusat sudah tersalurkan lebih dari 80%.
Dari 514 kabupaten/kota, tercatat masih ada lebih dari 120 daerah yang serapan belanjanya di bawah 50%. (RDN)












