Kisah Perubahan Warga Binaan Lewat Program Pembinaan Pemasyarakatan

Deloo.id, Jakarta – Di balik tembok tinggi dan pintu besi Lembaga Pemasyarakatan, tersimpan cerita-cerita manusia yang sedang menata ulang hidupnya.

Bagi sebagian orang, Lapas mungkin identik dengan hukuman. Namun bagi Warga Binaan di berbagai Lapas di Indonesia, tempat itu pelan-pelan berubah menjadi ruang belajar, ruang perenungan, dan ruang kelahiran harapan baru.

Setiap pagi, derap langkah para Warga Binaan memenuhi halaman. Ada yang membawa kayu untuk belajar pertukangan, ada yang menyiapkan bahan kain untuk menjahit, ada pula yang tekun menghaluskan kayu menjadi mebel.

Di sudut lain, sekelompok Warga Binaan sedang mengikuti pembinaan kepribadian, sesi konseling, pembelajaran moral, hingga penguatan spiritual.

Bagi mereka, pembinaan bukan sekadar rutinitas. Ini adalah jembatan menuju masa depan yang lebih cerah, di luar jeruji.

“Di sini saya belajar membangun diri dari awal. Dulu saya merasa hidup saya habis. Tapi sekarang saya bisa membuat meja, kursi, bahkan lemari. Saya ingin buka usaha kecil setelah bebas,” ujar salah satu Warga Binaan sambil tersenyum, tangannya masih berbalut serbuk kayu.

Program pembinaan kemandirian yang dijalankan Pemasyarakatan memang dirancang untuk memberikan keterampilan praktis yang benar-benar diperlukan masyarakat.

Pertukangan, kerajinan, menjahit, kuliner, hingga mebel menjadi keterampilan yang kini melekat pada diri mereka bekal penting untuk melanjutkan hidup setelah kembali ke tengah masyarakat.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menegaskan bahwa pembinaan merupakan inti dari sistem pemasyarakatan yang modern dan manusiawi.

“Pemasyarakatan tidak hanya berbicara soal pengamanan. Yang utama adalah bagaimana Warga Binaan dipersiapkan agar kembali sebagai manusia yang lebih baik, mandiri, dan siap berkontribusi ketika kembali ke masyarakat,” kata Mashudi yang dikutip dari akun IG @ditjenpas, Minggu (10/5/2026).

Ia menambahkan bahwa setiap Warga Binaan berhak mendapatkan kesempatan kedua.

“Setiap orang bisa berubah. Tugas kami adalah memastikan proses perubahan itu berjalan dengan benar, bermartabat, dan memberi harapan,” tegasnya.

Di banyak Lapas, hasil pembinaan kemandirian kini sudah mulai terlihat nyata. Produk kerajinan tangan Warga Binaan dipamerkan ke publik, hasil pertukangan mereka dibeli masyarakat, bahkan beberapa dari mereka berhasil bekerja kembali setelah bebas.

Tak sedikit pula yang membuka usaha kecil berbekal keterampilan yang didapat di balik jeruji.

Di tengah langkah pembinaan yang intensif, satu hal menjadi benang merah: Lapas bukan ruang hukuman semata, tetapi ruang pembentukan ulang kehidupan.

Harapan tumbuh di banyak tempat, di ruang bengkel kayu yang bising, di ruang jahit yang penuh warna, di ruang konseling yang hening, dan tentu saja, di dalam hati setiap Warga Binaan yang ingin memulai hidup baru.

Karena di balik setiap jeruji, selalu ada manusia yang ingin berubah. Dan Pemasyarakatan hadir untuk memastikan perubahan itu menemukan jalannya. (BYD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *