Deloo.id, Makassar – Upaya evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar menjadi salah satu operasi paling ekstrem yang pernah dijalankan tim SAR.
Berlangsung di kawasan Pegunungan Bulu Saraung, wilayah curam dengan kedalaman ratusan meter, proses penyelamatan ini memaksa para rescuer bertahan lebih dari 30 jam di tebing yang labil, dalam kondisi hujan deras, kabut pekat, dan suhu dingin menusuk.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa evakuasi dilakukan melalui teknik rappeling di titik dekat lokasi pesawat menabrak punggungan.
“Tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang dekat serpihan pesawat. Setiap personel membutuhkan dua hingga tiga menit untuk turun menggunakan tali dan alat descender,” kata Arif dalam keterangan pers, Selasa (20/1/2026).
Sebanyak 10 personel gabungan dari Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, hingga Jasdam diturunkan ke dasar jurang.
Dari bawah, tim mulai menyisir alur sungai kecil dan serpihan pesawat sejauh 200 meter menurun.
Korban Ditemukan Tersangkut di Pohon
Seorang rescuer Basarnas Makassar, Rusmadi, menceritakan momen dramatis ketika korban pertama berjenis kelamin laki-laki—ditemukan.
Korban ditemukan pukul 13.43 WITA, tersangkut pada dahan pohon di kemiringan sekitar 30°, tepat di bibir jurang.
Proses packing jenazah memakan waktu hampir satu jam karena kondisi medan sangat berbahaya.
Upaya evakuasi sempat dilakukan ke arah atas sejauh 60 meter. Namun medan terjal, hujan deras, serta kelelahan personel membuat tim harus melakukan evaluasi cepat.
“Tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena dinilai lebih aman,” Rusmadi menuturkan.
Bertahan Semalam di Lereng Longsor
Rencana evakuasi ke bawah pun tidak berjalan mulus. Hujan deras yang turun terus-menerus, kabut tebal, serta tanah licin membuat tim hampir tidak dapat bergerak.
Sekitar pukul sore, kondisi dinilai terlalu berbahaya untuk melanjutkan perjalanan. Tim memutuskan bertahan semalaman di lereng tebing berbatu yang labil dan rawan longsor—bersama jenazah korban.
“Kabut tebal, hujan non-stop, angin dingin… Kami tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kami bertahan lebih dari 30 jam sambil menjaga jenazah,” katanya.
Evakuasi Estafet Hingga 35 Kilometer
Keesokan harinya (19/1), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik sudah tidak memungkinkan.
Tim kedua kemudian membawa jenazah menuju area persawahan Kampung Lampeso dalam perjalanan 20 jam yang melelahkan.
Setelah itu, evakuasi diteruskan oleh tim ketiga melalui jalur setapak menuju Kampung Baru, menempuh 15 kilometer medan variatif berupa sungai, punggungan, dan hutan lebat.
Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 5 kilometer menuju jalan poros Kecamatan Cenrana, sebelum jenazah akhirnya disiapkan untuk dibawa ke RS Bhayangkara Makassar guna menjalani proses identifikasi oleh tim DVI.
Korban Masih Berada di Lampeso
Hingga berita ini diturunkan, korban pertama masih berada di wilayah Lampeso dan proses evakuasi akhir masih berlangsung. Informasi terbaru akan disampaikan sesuai perkembangan di lapangan. (BYD)












