Deloo.id, Jakarta — Pelayanan publik yang cepat, peduli, dan penuh empati kembali ditunjukkan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur. Jumat pagi, tim Imigrasi “turun langsung ke lapangan” dengan mendatangi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Selasa (5/5/2026) untuk melayani pembuatan paspor seorang ibu dan anak yang tengah dirawat intensif.
Anak tersebut harus segera berangkat ke India untuk menjalani pengobatan lanjutan. Agar proses medis tak terhambat urusan administrasi, Imigrasi bergerak cepat melakukan wawancara hingga pengambilan foto paspor langsung di ruang perawatan.
Langkah ini menjadi bukti bahwa pelayanan publik tidak selalu harus menunggu masyarakat datang ke kantor, negara perlu hadir sampai ke sisi ranjang rumah sakit.
Negara Harus Hadir Lebih Cepat dari Masalahnya
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur, Pungki Handoyo, menegaskan bahwa layanan jemput bola seperti ini sudah menjadi bagian dari semangat Imigrasi dalam menghadirkan layanan yang humanis.
“Ketika seseorang sedang sakit dan membutuhkan penanganan cepat, negara harus hadir lebih cepat dari masalahnya. Kami ingin memastikan tidak ada prosedur administrasi yang menghambat pasien untuk mendapatkan hak layanan kesehatan,” kata Pungki, Rabu (13/6).
Ia menyebut, setiap permohonan paspor yang sifatnya urgent terutama terkait kebutuhan medis akan menjadi prioritas.
“Petugas kami siap datang ke mana pun bila kondisi pemohon tidak memungkinkan ke kantor. Ini komitmen kami untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” tegasnya.
Keluarga Bantah Drama: Ini Real Relief
Keluarga pasien mengaku sangat terbantu. Di tengah situasi yang serba genting, kepastian bahwa paspor bisa selesai tanpa harus memboyong pasien ke kantor Imigrasi menjadi angin lega.
Kehadiran Imigrasi langsung di rumah sakit ini menambah daftar bukti bahwa aparatur negara bisa bekerja dengan hati bukan hanya prosedur.
Pelayanan Publik yang “Menyentuh”
Langkah cepat Imigrasi Jakarta Timur ini menuai pujian karena menunjukkan bahwa pelayanan publik bisa lebih adaptif, responsif, dan benar-benar memahami kondisi masyarakat.
Tidak hanya sekadar mengurus dokumen, layanan ini menjadi representasi nyata bahwa birokrasi juga bisa hadir dengan sentuhan kemanusiaan. (BYD)












