Deloo.id, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) memasuki babak baru dalam transformasi energi nasional.
Setelah hampir satu dekade menjalankan transisi bahan bakar ramah lingkungan, KAI kini mempercepat langkah menuju penggunaan biodiesel B50 sebagai bagian dari agenda besar ketahanan energi dan dekarbonisasi sektor transportasi.
Langkah strategis tersebut menjadikan KAI sebagai salah satu operator transportasi massal terbesar di Indonesia yang secara konsisten mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam operasional sehari-hari.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan perjalanan dari penggunaan B0 hingga menuju B50 bukan sekadar perubahan jenis bahan bakar, melainkan bagian dari transformasi nasional untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan rendah emisi.
“Kereta api memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda energi nasional. Karena itu setiap tahap transisi harus memastikan layanan tetap aman, andal, efisien, sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi,” ujar Bobby, Sabtu (13/6/2026).
Berdasarkan roadmap yang dijalankan perusahaan, penggunaan biodiesel meningkat secara bertahap dari B0 pada 2017, B20 pada 2018–2019, B30 pada 2020–2022, B35 pada 2023–2024, B40 pada 2025–2026, hingga menuju implementasi B50 pada tahun ini.
Transformasi tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
KAI menilai sektor transportasi berbasis rel memiliki peluang besar menjadi tulang punggung mobilitas rendah karbon karena mampu mengangkut jutaan penumpang dan barang dengan konsumsi energi yang lebih efisien dibanding moda transportasi lainnya.
Untuk memastikan kesiapan implementasi B50, KAI bersama Kementerian ESDM telah memulai serangkaian pengujian teknis sejak April 2026.
Pengujian dilakukan pada lokomotif CC206 yang menarik rangkaian KA Sembrani serta genset kereta api pada KA Bogowonto. Berbagai aspek diuji, mulai dari performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi gas buang, hingga ketahanan operasional dalam jangka panjang.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan seluruh proses dilakukan secara hati-hati karena operasional kereta api memiliki standar keselamatan dan keandalan yang sangat tinggi.
“Kami mendukung penuh kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan. Namun setiap tahapan harus melalui pengujian dan evaluasi menyeluruh agar keselamatan, kenyamanan pelanggan, dan kelancaran logistik nasional tetap terjaga,” kata Anne.
Menurut Anne, hasil pengujian saat ini masih terus dipantau sebagai dasar evaluasi sebelum implementasi B50 diterapkan secara lebih luas di lingkungan operasional KAI.
Di balik transformasi energi tersebut, KAI menargetkan dampak lingkungan yang signifikan.
Perusahaan memperkirakan penggunaan biodiesel B50 mampu menurunkan emisi karbon hingga 133.676 ton CO₂e dalam periode program dekarbonisasi 2025–2030.
Angka tersebut menjadi kontribusi terbesar dalam target penurunan emisi KAI yang mencapai 166.873 ton CO₂e, melalui kombinasi program efisiensi energi, konservasi lingkungan, dan pengelolaan karbon.
Selain itu, hasil kajian Life Cycle Assessment bersama BRIN menunjukkan operasional KRL Jabodetabek hanya menghasilkan sekitar 34,03 gram CO₂e per penumpang per kilometer, memperkuat posisi kereta api sebagai moda transportasi massal yang lebih ramah lingkungan.
KAI juga memastikan transformasi energi tetap berjalan seiring dengan keberlanjutan layanan publik. Hingga Juni 2026, perusahaan telah merealisasikan penggunaan sekitar 95,3 juta liter BBM subsidi, atau 44,5 persen dari total kuota tahunan yang diberikan pemerintah.
Menurut Bobby, dukungan pemerintah melalui kebijakan energi dan pasokan bahan bakar menjadi faktor penting dalam menjaga layanan transportasi publik tetap terjangkau sekaligus mendorong agenda energi bersih.
“Roadmap menuju B50 menunjukkan bahwa kereta api bukan hanya moda transportasi, tetapi juga bagian penting dari transformasi energi Indonesia. Kami ingin memastikan layanan publik tetap andal sambil memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi nasional, penurunan emisi, dan daya saing ekonomi,” tegas Bobby.
Dengan jutaan perjalanan yang dilayani setiap tahun, langkah KAI menuju B50 menjadi sinyal kuat bahwa transformasi energi nasional tidak lagi sekadar wacana.
Jalur rel kini bukan hanya menghubungkan kota dan daerah, tetapi juga menjadi lintasan menuju masa depan transportasi Indonesia yang lebih hijau. (BGE)












