Deloo.id, Cibinong – Produk bernama Donut Prabudana kini menjadi salah satu ikon keberhasilan program kemandirian warga binaan di Lapas Kelas IIA Cibinong.
Tak hanya menawarkan cita rasa yang mampu bersaing dengan produk komersial di pasaran, Donut Prabudana juga membawa pesan yang lebih besar, kesempatan kedua bagi warga binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik melalui keterampilan dan produktivitas.
Melalui program pembinaan kerja, warga binaan dilibatkan langsung dalam seluruh proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku, pembuatan adonan, hingga pengemasan produk.
Seluruh tahapan dilakukan dengan standar kebersihan yang ketat menggunakan perlengkapan sanitasi seperti topi, masker, dan sarung tangan.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Cibinong, Ratu, menjelaskan bahwa pemilihan produk donat bukan tanpa alasan. Selain memiliki pasar yang luas, proses pembuatannya relatif mudah dipelajari sehingga dapat menjadi bekal keterampilan yang aplikatif bagi warga binaan setelah bebas nanti.
“Donat dipilih karena merupakan produk yang dekat dengan masyarakat dan disukai berbagai kalangan. Selain itu, bahan bakunya mudah diperoleh sehingga keterampilan ini dapat langsung dimanfaatkan warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujar Ratu, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, kualitas produk menjadi prioritas utama. Karena itu, aspek rasa, kebersihan, hingga legalitas produk terus diperhatikan agar mampu bersaing secara profesional.
Prabudana kini telah memiliki sertifikat halal sebagai bentuk komitmen terhadap kualitas dan kepercayaan konsumen. Produk tersebut juga menjadi salah satu hasil pembinaan yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga binaan.
Setiap hasil penjualan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk mendukung operasional produksi, tetapi juga dialokasikan dalam bentuk premi kerja yang ditabung atas nama warga binaan. Dana tersebut nantinya dapat menjadi modal awal ketika mereka kembali ke masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto, menegaskan bahwa program pembinaan kemandirian tidak sekadar mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun mentalitas produktif dan rasa percaya diri warga binaan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap warga binaan memiliki bekal yang nyata ketika kembali ke masyarakat. Donut Prabudana bukan hanya produk makanan, tetapi simbol perubahan, kerja keras, dan harapan baru,” kata Wisnu di waktu berbeda.
“Melalui program ini kami berupaya membuktikan bahwa pembinaan yang tepat mampu melahirkan karya berkualitas sekaligus membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan,” tambahnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut menjadi bagian dari transformasi pemasyarakatan yang berorientasi pada pembinaan dan pemberdayaan.
Menurut Wisnu, lapas tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembelajaran yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah bebas.
Kehadiran Donut Prabudana menjadi bukti bahwa kreativitas dan produktivitas dapat tumbuh di mana saja, termasuk di dalam lingkungan pemasyarakatan.
Dari balik jeruji, lahir sebuah karya yang tidak hanya menghadirkan rasa manis, tetapi juga membawa harapan bagi mereka yang sedang menata kembali masa depannya.
Bagi Lapas Cibinong, setiap donat yang diproduksi bukan sekadar makanan, melainkan representasi dari semangat perubahan, kesempatan kedua, dan komitmen untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah masa pembinaan berakhir. (BAA)












