Menko Polkam Aktifkan Kembali Desk Karhutla dan Siagakan Enam Provinsi Rawan

Deloo.id, Jakarta – Pemerintah mulai mengencangkan kewaspadaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat seiring menguatnya fenomena El Nino pada 2026 hingga 2027.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago, menegaskan bahwa karhutla bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan ancaman serius terhadap ketahanan nasional.

Peringatan itu disampaikan Djamari saat membuka Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Pengendalian Karhutla Tahun 2026 bertema “Bersinergi untuk Negeri Menghadapi El Nino 2026 dan 2027”.

Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya merugikan masyarakat dan sektor ekonomi, tetapi juga berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik Indonesia dengan negara tetangga akibat pencemaran asap lintas batas.

“Karhutla adalah persoalan multidimensi yang berdampak langsung pada ketahanan nasional. Karena itu, pengendaliannya membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, media hingga masyarakat,” kata Djamari dalam keterangan pers Jumat (19/6/2026).

Pemerintah Aktifkan Kembali Desk Karhutla

Menghadapi ancaman musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering akibat El Nino, pemerintah memutuskan mengaktifkan kembali Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla Tahun 2026.

Desk tersebut akan berfungsi sebagai pusat koordinasi nasional yang mengintegrasikan kebijakan, pemantauan, hingga evaluasi penanganan karhutla dari tingkat pusat hingga daerah.

Djamari menegaskan pendekatan pemerintah kini tidak lagi bersifat sektoral, melainkan berbasis kolaborasi nasional.

“Kita tidak boleh bekerja sendiri-sendiri. Keselamatan masyarakat, perlindungan lingkungan hidup, dan kepentingan negara harus menjadi prioritas bersama,” ujar Djamari.

Enam Provinsi Jadi Fokus Pengawasan

Pemerintah menetapkan enam wilayah sebagai daerah prioritas pengendalian karhutla tahun ini, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Keenam daerah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi karena didominasi lahan gambut, kawasan hutan yang luas, serta kondisi cuaca yang rentan memicu kebakaran saat musim kemarau.

Djamari meminta seluruh kepala daerah, Pangdam, Kapolda, BPBD, serta pemangku kepentingan lainnya segera meningkatkan kesiapsiagaan.

“Jangan menunggu sampai api muncul. Posko siaga, patroli terpadu, deteksi dini, kesiapan personel dan peralatan harus diperkuat mulai sekarang,” tegasnya.

BMKG: El Nino Diprediksi Menguat Mulai Juli

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengungkapkan bahwa intensitas El Nino saat ini masih berada pada kategori moderat.

Namun, fenomena tersebut diprediksi terus menguat mulai Juli hingga September 2026 dan mencapai puncaknya pada Oktober.

Kondisi itu berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan, meningkatkan jumlah titik panas (hotspot), dan memperbesar risiko kebakaran hutan maupun lahan.

“Periode Juli hingga Oktober harus menjadi perhatian serius karena potensi peningkatan risiko karhutla cukup tinggi,” ujarnya.

BMKG juga telah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi. Hingga pertengahan Juni 2026, operasi tersebut telah berlangsung selama 141 hari dengan 225 sortie penerbangan di sejumlah wilayah rawan karhutla.

Tiga Target Nasional Karhutla 2026

Dalam rakorsus tersebut, pemerintah menetapkan tiga target utama pengendalian karhutla tahun 2026 mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan berskala besar, mencegah bencana asap lintas wilayah dan lintas negara, dan memperkuat sistem deteksi dini serta respons cepat melalui sinergi nasional.

Menutup arahannya, Djamari mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah menghadapi ancaman karhutla yang diperkirakan meningkat seiring perkembangan El Nino.

“Jangan lengah, jangan lelah, jangan bosan, dan jangan lesu. Karhutla adalah persoalan bangsa yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat, perekonomian, lingkungan, hingga kehormatan negara,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menilai keberhasilan menekan angka karhutla dalam beberapa tahun terakhir merupakan hasil kerja bersama lintas sektor yang harus terus dipertahankan.

“Ancaman tahun ini tidak ringan. Musim kemarau diperkirakan lebih panjang dan lebih kering. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi budaya kerja permanen, bukan sekadar respons saat bencana terjadi,” kata Raja Juli.

Dengan ancaman El Nino yang diprediksi memuncak pada akhir tahun, pemerintah kini berpacu dengan waktu untuk memastikan Indonesia tidak kembali menghadapi bencana asap besar yang pernah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan di masa lalu. (BGE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *