Lapas Ciangir Panen Hampir 1 Ton Telur Sehari, Pasok Pasar dan Hotel

Deloo.id, Tangerang – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciangir, Banten, mengembangkan program pembinaan berbasis ketahanan pangan yang mampu menghasilkan sekitar 860 kilogram telur ayam petelur setiap hari.

Hasil produksi tidak hanya memenuhi kebutuhan bahan makanan di dalam lapas, tetapi juga dipasarkan ke sejumlah pasar di Tangerang, Jakarta, hingga sektor perhotelan.

Kepala Lapas Kelas IIB Ciangir, Soesanto Poedji Djatmiko, mengatakan program budidaya ayam petelur berkembang dalam waktu kurang dari satu tahun.

“Saat ini kami memiliki tiga rumah budidaya ayam petelur. Setiap rumah terdiri atas tiga kandang dengan total sekitar 35 ribu ekor ayam. Ke depan, kapasitasnya akan kami tingkatkan hingga sekitar 60 ribu ekor,” kata Soesanto, Kamis (9/7).

Menurutnya, seluruh proses pemeliharaan hingga panen melibatkan warga binaan yang telah mengikuti program asimilasi.

“Setiap kandang dikelola oleh seorang warga binaan. Mereka bertugas memberi pakan, merawat ayam, dan memanen telur setiap hari. Program ini menjadi bagian dari pembinaan keterampilan sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab,” ujarnya.

Hasil Produksi Masuk Pasar dan Perhotelan

Soesanto menjelaskan, hasil panen telur digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan warga binaan dan dipasarkan ke berbagai daerah.

“Selain untuk kebutuhan internal lapas, telur juga kami distribusikan ke pasar-pasar di wilayah Tangerang dan Jakarta. Kami bahkan telah bekerja sama dengan sektor perhotelan sebagai salah satu mitra pemasaran,” jelasnya.

Selain peternakan ayam petelur, Lapas Ciangir mengembangkan peternakan domba, sapi, ayam kampung, budidaya ikan, dan pertanian.

Populasi domba yang semula hanya 20 ekor kini meningkat menjadi 85 ekor. Saat Iduladha lalu, sebanyak 25 ekor domba berhasil dijual sebagai hewan kurban.

Di sektor pertanian, lapas memanfaatkan sekitar delapan hektare lahan produktif untuk membudidayakan berbagai komoditas, seperti pakcoy, kale, mentimun, terong, hingga padi.

Diikuti Warga Binaan Risiko Rendah

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten, Lili, mengatakan warga binaan yang mengikuti program di Lapas Ciangir merupakan narapidana dengan kategori minimum security atau berisiko rendah.

“Mereka berasal dari sejumlah lapas di wilayah Banten dan Jakarta, telah menjalani setidaknya separuh masa pidana, berkelakuan baik, serta lolos asesmen. Karena itu mereka dapat mengikuti program asimilasi berbasis ketahanan pangan,” ujar Lili.

Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari implementasi pembinaan yang mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

“Mereka memperoleh pelatihan di bidang peternakan dan pertanian serta menerima premi atas pekerjaan yang dilakukan. Harapannya, keterampilan ini menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” katanya.

Jadi Bekal Setelah Bebas

Salah seorang warga binaan, Mukhriji (21), mengaku memilih mengikuti pelatihan peternakan domba karena ingin membuka usaha setelah bebas.

“Di kampung saya memang ada peternakan domba. Saya ingin memanfaatkan ilmu yang saya dapatkan di sini untuk melanjutkan usaha nanti,” ujarnya.

Mukhriji mengatakan dirinya menerima premi sekitar Rp 800 ribu setiap bulan. Sebagian uang tersebut ditabung sebagai modal usaha, sementara sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama menjalani pembinaan.

Program ketahanan pangan di Lapas Ciangir menjadi bagian dari upaya membangun sistem pembinaan yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan kerja, pengalaman usaha, dan kesiapan untuk kembali menjalani kehidupan yang produktif setelah bebas. (BAA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *