Deloo.id, Jakarta – Pemerintah mempercepat pembangunan jaringan kereta api nasional sebagai bagian dari strategi besar memperkuat konektivitas Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Langkah ini menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan sektor perkeretaapian sebagai fondasi penting menuju negara maju.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan pengembangan jaringan kereta api nasional hingga mencapai 10.524 kilometer, meningkat signifikan dari jaringan aktif saat ini yang telah mencapai sekitar 6.927 kilometer dan tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengatakan pembangunan jaringan rel tidak hanya berorientasi pada sektor transportasi, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk memperkuat distribusi logistik, membuka akses ekonomi baru, dan meningkatkan mobilitas masyarakat.
“Pengembangan jaringan kereta api nasional bukan sekadar pembangunan infrastruktur transportasi, tetapi upaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui aksesibilitas yang lebih baik, biaya logistik yang lebih efisien, serta peluang ekonomi yang semakin terbuka di berbagai daerah,” ujar Dudy usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden di Istana Merdeka baru-baru ini.
Penumpang Kereta Melonjak, Kepercayaan Publik Meningkat
Data Kemenhub menunjukkan minat masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel terus mengalami peningkatan.
Sepanjang 2025, jumlah pengguna kereta api mencapai hampir 550 juta penumpang, naik sekitar 8,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 500,5 juta penumpang.
Lonjakan tersebut dinilai menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi kereta api yang semakin modern, aman, dan efisien.
Pemerintah pun menilai momentum tersebut harus direspons dengan percepatan pembangunan jaringan rel baru serta peningkatan kapasitas layanan yang sudah ada.
Trans Sumatera hingga Kereta Logistik Jadi Prioritas
Dalam peta besar pengembangan perkeretaapian nasional, pemerintah memfokuskan pembangunan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Di Sumatera, pembangunan diarahkan untuk memperkuat konektivitas penumpang sekaligus mendukung distribusi barang melalui jaringan Kereta Api Trans Sumatera.
Sementara itu, di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, pembangunan jalur rel akan difokuskan untuk menopang distribusi komoditas unggulan daerah serta memperkuat aktivitas ekonomi kawasan.
Sejumlah proyek strategis yang saat ini menjadi prioritas antara lain:
- Pengembangan jaringan Kereta Api Trans Sumatera.
- Kereta api logistik di Kalimantan.
- Penyelesaian operasional Kereta Api Makassar–Parepare.
- Pengembangan kereta perkotaan di berbagai kota besar.
- Elektrifikasi jalur kereta di Pulau Jawa.
- Pengembangan kereta semi cepat dan kereta cepat.
Menurut Dudy, pembangunan kereta logistik menjadi salah satu langkah penting untuk menekan biaya distribusi barang yang selama ini masih bergantung pada angkutan jalan raya.
Kereta untuk Petani dan Pedagang Terus Diperluas
Selain proyek infrastruktur berskala besar, Kemenhub juga mengembangkan program pelayanan gerbong khusus bagi petani dan pedagang yang telah berjalan di sejumlah daerah.
Program tersebut saat ini telah hadir di wilayah Lebak, Garut, Cilacap, Yogyakarta, Solo, Semarang, Blitar, Jember hingga Banyuwangi.
“Kereta logistik diarahkan untuk memperkuat efisiensi distribusi barang dan mendukung penurunan beban jalan raya. Selain itu, layanan gerbong bagi petani dan pedagang juga terus dikembangkan karena mendapat respons positif dari masyarakat,” kata Dudy.
Kereta Api Disiapkan Jadi Tulang Punggung Ekonomi Nasional
Kemenhub menilai penguatan jaringan perkeretaapian akan menjadi katalis utama pemerataan pembangunan nasional karena mampu menghubungkan kawasan industri, sentra pertanian, pelabuhan, bandara, hingga destinasi pariwisata.
Dengan konektivitas yang semakin kuat, biaya logistik diharapkan semakin kompetitif dan akses masyarakat terhadap pusat-pusat ekonomi menjadi lebih mudah.
Pemerintah juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan pemerintah daerah, operator transportasi, dan sektor swasta agar pembangunan jaringan rel nasional dapat berlangsung lebih cepat tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
“Perkeretaapian akan semakin berperan sebagai tulang punggung transportasi massal dan logistik Indonesia. Jaringan rel yang semakin luas diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat daya saing nasional, dan mendukung Indonesia yang lebih maju serta terhubung,” tegas Dudy. (BGE)












