Deloo.id, Depok – Suasana Car Free Day (CFD) di Jalan Margonda, Kota Depok, Minggu (12/7/2026), diwarnai kehadiran stan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok yang menampilkan berbagai produk unggulan hasil karya warga binaan.
Salah satu yang paling banyak menarik perhatian pengunjung adalah Kopi Krabu, kopi racikan warga binaan yang menjadi simbol keberhasilan program pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan.
Selain Kopi Krabu, Rutan Kelas I Depok juga memamerkan beragam kerajinan tangan hasil kreativitas warga binaan. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pengunjung yang singgah untuk melihat hingga membeli produk yang dipamerkan.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Rutan Kelas I Depok, Agung Nurbani, didampingi Kepala Seksi Pelayanan Tahanan, Thowvik Nur Rohman.
Partisipasi Rutan Depok dalam CFD Margonda merupakan hasil kolaborasi dengan Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Depok sebagai bentuk sinergi antarsatuan kerja di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam memperkenalkan hasil pembinaan warga binaan kepada masyarakat.
Thowvik mengatakan, keikutsertaan Rutan Depok dalam kegiatan tersebut bukan sekadar memamerkan produk, tetapi juga memperlihatkan bahwa warga binaan mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi dan layak bersaing di pasaran.
“Tujuan utama pembinaan adalah memberikan bekal hidup kepada warga binaan agar ketika kembali ke masyarakat mereka memiliki keterampilan, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk hidup mandiri. Krabu Coffee menjadi salah satu bukti bahwa proses pembinaan mampu melahirkan karya yang bernilai,” ujar Thowvik.
Kopi Krabu, Singkatan dari Kreasi Anak Bui
Thowvik menjelaskan, Krabu merupakan akronim dari Kreasi Anak Bui, sebuah merek yang lahir dari proses pembinaan keterampilan di Rutan Kelas I Depok.
Menurutnya, seluruh proses produksi kopi dikerjakan langsung oleh warga binaan di bawah pendampingan petugas pembinaan.
“Mulai dari proses menyangrai biji kopi, menggiling, hingga pengemasan dilakukan oleh warga binaan. Bahkan mesin roasting, grinder, dan sebagian besar peralatan produksi merupakan hasil rancangan dan pembuatan warga binaan sendiri dengan bimbingan petugas,” katanya.
Biji kopi yang digunakan berasal dari daerah Bogor dan Lampung untuk menghasilkan cita rasa yang khas.
Saat ini Kopi Krabu dipasarkan dalam kemasan sachet 25 gram dengan campuran kopi dan gula yang dijual seharga Rp 1.500 per sachet.
“Sementara ini pemasarannya masih dilakukan di lingkungan internal Rutan melalui koperasi. Namun kami berharap ke depan produk ini dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Thowvik.
Tak Kalah Nikmat dengan Kopi Komersial
Meski diproduksi oleh warga binaan, Thowvik meyakini kualitas Krabu Coffee mampu bersaing dengan berbagai produk kopi yang telah beredar di pasaran.
“Kami terus menjaga kualitas bahan baku dan proses produksinya. Harapan kami, masyarakat tidak melihat siapa yang membuatnya, tetapi menilai kualitas produknya. Krabu Coffee adalah hasil kerja keras, kreativitas, dan semangat untuk berubah menjadi lebih baik,” tuturnya.
Ia menambahkan, nilai utama dari program tersebut bukan hanya menghasilkan produk, melainkan membangun keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika warga binaan menyelesaikan masa pidananya.
“Ketika mereka bebas nanti, kami ingin mereka pulang membawa kemampuan yang bisa menjadi sumber penghidupan. Dengan begitu, peluang untuk kembali melakukan pelanggaran hukum dapat ditekan karena mereka telah memiliki bekal keterampilan dan pengalaman kerja,” jelasnya.
Pembinaan yang Mendekatkan Warga Binaan dengan Masyarakat
Melalui partisipasi dalam CFD Margonda, Rutan Kelas I Depok berharap masyarakat semakin mengenal berbagai program pembinaan yang dijalankan di dalam rutan.
Selain menjadi sarana promosi produk, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pidana, tetapi juga membangun sumber daya manusia yang produktif, kreatif, dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat.
Ke depan, Rutan Kelas I Depok berkomitmen terus mengembangkan berbagai produk karya warga binaan agar memiliki daya saing, membuka peluang ekonomi, sekaligus memperkuat tujuan utama pemasyarakatan, yakni mengembalikan warga binaan sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. (BAA)












