Deloo.id, Jakarta – Semangat perubahan menggema dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (4/6/2026).
Sebanyak 1.000 buku diserahkan kepada warga binaan dalam kegiatan Gotong Royong Literasi dan Penyerahan Bantuan 1.000 Buku untuk Warga Binaan Pemasyarakatan yang dihadiri langsung Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya, jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Kegiatan tersebut menjadi simbol kuat bahwa pembinaan di era modern tidak lagi hanya berfokus pada aspek keamanan dan kedisiplinan, tetapi juga pada pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan budaya literasi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur, Pungky Handoyo, yang mengikuti rangkaian kunjungan kerja Menteri Imipas sebagai bentuk dukungan terhadap sinergi pembinaan dan pembangunan karakter di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menegaskan bahwa bantuan buku tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian negara dalam membuka akses pengetahuan bagi warga binaan.
Menurutnya, literasi memiliki peran strategis dalam membentuk pola pikir yang positif, memperluas wawasan, serta menumbuhkan semangat perubahan bagi mereka yang sedang menjalani proses pembinaan.
“Buku adalah investasi peradaban. Kehadiran ribuan buku ini bukan sekadar menambah koleksi perpustakaan, tetapi menjadi jembatan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri, membangun harapan baru, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujar Mashudi, Kamis (4/5/2026).
Ia menjelaskan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan saat ini terus melakukan transformasi pembinaan melalui berbagai program produktif, mulai dari pelatihan keterampilan kerja, ketahanan pangan, hingga penguatan budaya literasi di seluruh satuan kerja pemasyarakatan.
Literasi Jadi Kunci Reintegrasi Sosial
Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, mengatakan literasi merupakan instrumen penting dalam menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Menurutnya, setiap warga binaan berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan diri selama menjalani masa pidana.
“Kami berharap buku-buku ini menjadi teman belajar, sumber inspirasi, dan sarana membangun karakter yang lebih baik. Literasi membuka peluang bagi siapa pun untuk bangkit dan menciptakan masa depan yang lebih cerah,” kata Willy.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menyebut buku sebagai salah satu instrumen paling efektif dalam membangun kembali kepercayaan diri serta harapan warga binaan.
“Tembok lapas hanya membatasi ruang fisik, tetapi tidak boleh membatasi ilmu pengetahuan dan cita-cita seseorang. Melalui literasi, kami ingin menghadirkan ruang tumbuh yang mampu mengubah kehidupan warga binaan menjadi lebih baik,” ujarnya.
Pungky Handoyo: Literasi adalah Investasi Karakter Bangsa
Di sela kegiatan, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur, Pungky Handoyo, menyampaikan apresiasinya terhadap program literasi yang digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan bersama Komisi XIII DPR RI.
Menurutnya, pemberian bantuan buku merupakan langkah strategis dalam membangun sumber daya manusia yang unggul sekaligus memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan karakter positif di lingkungan pembinaan.
“Literasi adalah fondasi utama dalam membentuk pola pikir, karakter, dan kualitas sumber daya manusia. Program ini menunjukkan bahwa negara hadir memberikan kesempatan kepada setiap warga binaan untuk terus belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujar Pungky Handoyo.
Ia menambahkan bahwa semangat pembelajaran dan peningkatan kapasitas diri harus menjadi budaya bersama di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“Kami percaya bahwa perubahan besar selalu diawali dari pengetahuan. Karena itu, penguatan budaya membaca dan belajar harus terus didorong sebagai bagian dari upaya menciptakan SDM yang berkualitas, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” tambahnya.
Membangun Harapan dari Balik Jeruji
Program bantuan 1.000 buku tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menghadirkan sistem pemasyarakatan yang lebih humanis, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan manusia.
Melalui penguatan budaya literasi, pemerintah berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang akan menjadi modal penting saat kembali ke masyarakat.
Momentum ini sekaligus menjadi bukti bahwa transformasi pemasyarakatan terus bergerak menuju paradigma baru: dari tempat penghukuman menjadi ruang pembelajaran, pemberdayaan, dan lahirnya harapan-harapan baru bagi masa depan yang lebih baik. (BAA)












