Deloo.id, Jakarta – Sebuah terobosan pembinaan yang tidak biasa lahir dari Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya.
Ketika sebagian besar lembaga pemasyarakatan masih menerapkan sanksi disiplin berupa isolasi atau kurungan sunyi bagi warga binaan yang melanggar aturan, Rutan Surabaya justru mengambil jalur berbeda: menghukum dengan membaca buku dan menulis esai.
Inovasi tersebut mendapat perhatian serius dari Komisi XIII DPR RI. Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, menilai pendekatan berbasis literasi itu menjadi langkah progresif yang mencerminkan transformasi besar dalam sistem pemasyarakatan Indonesia.
Menurutnya, pembinaan tidak lagi semata-mata berorientasi pada hukuman, tetapi diarahkan untuk membangun kesadaran, karakter, dan kualitas sumber daya manusia warga binaan.
“Program Literasi Pemasyarakatan yang dikembangkan Rutan Kelas I Surabaya merupakan bentuk pembinaan yang kreatif, edukatif, dan berorientasi pada pembangunan kualitas manusia. Pendekatan ini layak diapresiasi dan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pemasyarakatan lainnya,” kata Sugiat, Minggu (14/6/2026).
Pelanggar Aturan Wajib Membaca dan Menulis
Dalam implementasinya, warga binaan yang melanggar tata tertib tidak langsung ditempatkan di sel isolasi. Mereka diarahkan ke perpustakaan dan ruang baca untuk mempelajari buku-buku yang telah disediakan.
Setelah membaca, warga binaan diwajibkan membuat resume, menulis esai reflektif, hingga mempresentasikan hasil pemahamannya di hadapan petugas pemasyarakatan.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi pembinaan yang menempatkan literasi sebagai instrumen perubahan perilaku.
Berbagai koleksi bacaan disediakan, mulai dari buku pengembangan diri, sejarah bangsa, hingga biografi tokoh nasional yang dinilai mampu menanamkan nilai kepemimpinan, integritas, disiplin, dan semangat pengabdian.
DPR: Buku Bisa Mengubah Cara Pandang Narapidana
Sugiat menilai literatur tokoh bangsa memiliki kekuatan besar dalam membangun kesadaran warga binaan.
Menurutnya, buku bukan sekadar sarana mengisi waktu selama menjalani masa pidana, tetapi dapat menjadi medium transformasi karakter yang efektif.
“Penyediaan buku-buku biografi tokoh bangsa merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan nilai perjuangan, disiplin, integritas, kerja keras, dan pengabdian kepada negara. Nilai-nilai tersebut penting sebagai bekal warga binaan untuk menata masa depan dan kembali menjadi bagian produktif dalam masyarakat,” ujarnya.
Kesadaran, Bukan Ketakutan
Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari evaluasi panjang terhadap efektivitas sanksi disiplin konvensional.
Menurutnya, hukuman fisik atau isolasi sering kali hanya menghasilkan kepatuhan sementara, bahkan berpotensi memunculkan resistensi psikologis.
Sebaliknya, metode membaca dan menulis mendorong warga binaan untuk melakukan refleksi mendalam terhadap tindakan yang telah mereka lakukan.
“Kami meyakini perubahan perilaku yang bertahan lama lahir dari kesadaran, bukan semata-mata karena hukuman. Melalui Program Literasi Pemasyarakatan, warga binaan didorong memahami nilai tanggung jawab, disiplin, integritas, dan perjuangan hidup sehingga tumbuh kesadaran untuk memperbaiki diri,” ujar Adi Wibowo.
Didorong Jadi Program Nasional
Keberhasilan program tersebut membuat Komisi XIII DPR RI mendorong Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk mengkaji kemungkinan penerapan model serupa secara nasional.
Di tengah tantangan klasik pemasyarakatan seperti overkapasitas dan keterbatasan personel, pendekatan berbasis literasi dinilai menjadi solusi pembinaan yang murah, humanis, dan berdampak jangka panjang.
Sugiat berharap program ini tidak berhenti sebagai inovasi lokal, melainkan menjadi gerakan nasional yang mampu mengubah wajah pembinaan pemasyarakatan Indonesia.
“Semoga inovasi ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi seluruh satuan kerja pemasyarakatan dalam menghadirkan pembinaan yang lebih humanis, berkualitas, serta berdampak nyata terhadap perubahan perilaku dan pembangunan karakter warga binaan,” tuturnya.
Transformasi yang dilakukan Rutan Surabaya menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari hukuman yang keras.
Dalam banyak kasus, satu buku yang dibaca dengan sungguh-sungguh bisa menjadi awal dari perubahan hidup yang lebih besar dibandingkan tembok isolasi yang sunyi. (BAA)












