Kopi Krabu dan Karya Warga Binaan Rutan Depok Curi Perhatian di CFD Margonda

Deloo.id, Depok – Ada yang berbeda di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Minggu (14/6/2026).

Di tengah ramainya warga yang berolahraga dan menikmati akhir pekan, sebuah stan sederhana milik Rutan Kelas I Depok justru menjadi salah satu titik yang paling banyak menarik perhatian pengunjung.

Bukan tanpa alasan. Rutan Depok menghadirkan Kopi Krabu Indonesia (Kreasi Anak Bangsa Untuk Indonesia) serta berbagai produk kerajinan tangan hasil karya warga binaan yang sukses mencuri perhatian masyarakat.

Kehadiran produk-produk tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Rutan Kelas I Depok bersama Kantor Imigrasi Depok dalam kegiatan Paspor Minggu Ceria (PASPORIA) yang digelar untuk mendekatkan layanan publik kepada masyarakat.

Di tengah stigma yang selama ini melekat terhadap lembaga pemasyarakatan, Rutan Depok justru menghadirkan pesan berbeda, warga binaan tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi dan kualitas yang mampu bersaing di pasar.

Kopi Krabu Jadi Magnet Pengunjung

Sejak pagi, stan Kopi Krabu ramai dikunjungi masyarakat yang penasaran dengan produk hasil karya warga binaan tersebut. Banyak pengunjung yang mencicipi kopi sekaligus mencari tahu proses pembinaan yang dilakukan di dalam rutan.

Aroma kopi yang khas dan cita rasa yang kuat membuat Kopi Krabu menjadi salah satu produk yang paling banyak mendapat perhatian selama kegiatan berlangsung.

Tidak sedikit pengunjung yang mengaku terkejut mengetahui kopi yang mereka nikmati merupakan hasil produksi warga binaan.

Selain kopi, berbagai produk kerajinan tangan hasil pelatihan keterampilan warga binaan juga dipamerkan kepada masyarakat.

 

Produk tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang selama ini dijalankan oleh Rutan Depok untuk membekali warga binaan dengan kemampuan produktif sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Pembinaan yang Menghasilkan Karya Nyata

Kepala Rutan Kelas I Depok, Agung Nurbani, mengatakan partisipasi dalam CFD menjadi momentum penting untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa proses pembinaan di dalam rutan mampu melahirkan produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa warga binaan memiliki potensi besar untuk berkarya dan menghasilkan produk yang berkualitas. Kopi Krabu dan berbagai kerajinan tangan yang ditampilkan hari ini merupakan bukti nyata bahwa program pembinaan yang kami jalankan mampu memberikan keterampilan, kepercayaan diri, dan harapan baru bagi warga binaan,” ujar Agung Nurbani, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, pembinaan pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga membangun kemampuan dan karakter warga binaan agar siap kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat.

Mengubah Stigma, Membangun Harapan

Agung menegaskan bahwa kegiatan seperti CFD menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan hasil pembinaan sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap warga binaan.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa di balik tembok rutan terdapat proses pembelajaran, pelatihan, dan pembinaan yang terus berjalan. Harapannya, ketika warga binaan kembali ke masyarakat, mereka memiliki keterampilan yang bisa menjadi bekal hidup dan sumber penghasilan yang legal serta produktif,” katanya.

Ia juga mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Rutan Depok dan Kantor Imigrasi Depok dalam menghadirkan pelayanan publik sekaligus memperkenalkan produk hasil pembinaan kepada masyarakat luas.

Wajah Baru Pemasyarakatan

Kehadiran Kopi Krabu dan produk kerajinan warga binaan di CFD Margonda menjadi simbol perubahan paradigma pemasyarakatan yang kini tidak lagi sekadar menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga mendorong lahirnya kemandirian ekonomi.

Di tengah ribuan warga yang memadati CFD, produk karya warga binaan berhasil membuktikan bahwa kesempatan untuk berubah dan berkarya selalu terbuka bagi siapa saja.

Bagi Rutan Depok, keberhasilan memperkenalkan Kopi Krabu kepada masyarakat bukan hanya soal penjualan produk, melainkan tentang membangun kepercayaan bahwa pembinaan yang tepat dapat melahirkan karya yang membanggakan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (BAA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *