Deloo.id, Cibinong – Gemuruh lantunan takbir, tahmid, dan tahlil membelah keheningan, menghentak dari dalam Masjid At-Taubah dan menggema ke seluruh blok hunian Lapas Kelas IIB Cibinong.
Malam takbiran kali ini bukan sekadar ritual, tetapi menjadi momen epik kebersamaan antara petugas dan warga binaan.
Di bawah cahaya lampu masjid yang temaram, ratusan warga binaan berpakaian putih duduk rapih dalam lingkaran kebersamaan.
Petugas, CPNS, staf struktural, hingga Kalapas pun duduk sejajar, tanpa sekat, tanpa jarak sebuah pemandangan yang jarang terlihat di balik tembok penjara.
Takbir Menggema, Hati Menghangat
Usai salat Isya berjemaah, suara bedug mulai ditabuh. Suaranya keras, penuh energi, seolah membangunkan harapan baru bagi para warga binaan.
Setiap dentuman seperti mengirim pesan bahwa Iduladha bukan hanya milik mereka yang di luar, tetapi juga bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan.
Lantunan takbir dipimpin bergantian oleh petugas dan warga binaan, menciptakan suasana religius yang kental dan khusyuk, jauh dari gambaran kerasnya kehidupan lapas.
Pesan Kalapas: Iduladha Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Momentum Perbaikan Diri
Kalapas Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto, menyampaikan pesan tegas namun penuh kehangatan.
“Melalui takbiran bersama ini, kami ingin menghadirkan suasana religius yang bukan hanya membangkitkan ketenangan, tetapi juga memupuk nilai introspeksi diri. Iduladha adalah momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kepedulian antar sesama,” ujar Wisnu.
Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini bukan seremonial belaka. Takbiran bersama menjadi bagian integral dari pembinaan spiritual, sebuah ruang bagi warga binaan untuk merasakan kembali esensi nilai keikhlasan, kesabaran, serta kembali pada jati diri yang lebih baik.
Kebersamaan Tanpa Sekat: Petugas & Warga Binaan Duduk Setara
Tak ada garis pemisah, tak ada hirarki. Semua larut dalam satu majelis yang sama.
Kehadiran petugas seperti Kasubag TU Deni Tarmedi, Kasubsi Bimkemaswat Ricky Robby, staf, CPNS, hingga pemuka warga binaan membuat suasana malam takbiran terasa hangat dan inklusif.
Momentum ini sekaligus menjadi simbol bahwa pembinaan di Lapas Cibinong tidak hanya berorientasi pada aspek kedisiplinan, tetapi juga pendekatan humanis dan spiritual.
Religius, Damai, dan Menggetarkan Lapas Cibinong Hadirkan Iduladha yang Berkesan
Malam semakin larut, tetapi semangat takbir tidak mereda. Tidak ada kericuhan, tidak ada gangguan hanya kedamaian yang sulit didapatkan di banyak tempat.
Kegiatan berakhir dalam suasana tertib, aman, dan penuh kekhusyukan, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. (BAA)












