Menteri Agus Panen Terong Bersama Warga Binaan Lapas Warungkiara

Deloo.id, Sukabumi – Program pembinaan berbasis kemandirian yang dijalankan di Lapas Kelas IIA Warungkiara, Sukabumi, kembali mendapat perhatian nasional.

Di sela peresmian program bedah rumah bagi masyarakat, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, turut melakukan panen terong di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang dikelola oleh warga binaan.

Kegiatan tersebut menjadi simbol perubahan paradigma pemasyarakatan yang tidak lagi hanya berfokus pada pembinaan di dalam lapas, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Panen hasil pertanian warga binaan itu juga mendapat apresiasi dari Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Dewi Asmara, yang menilai program pembinaan di lingkungan pemasyarakatan telah menunjukkan dampak positif baik bagi warga binaan maupun masyarakat sekitar.

Menurut Dewi, berbagai program produktif yang dijalankan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan membuktikan bahwa proses pembinaan mampu melahirkan keterampilan, kemandirian, dan kontribusi sosial yang nyata.

Pemasyarakatan Tidak Lagi Sekadar Membina

Menteri Agus Andrianto menegaskan bahwa sejak awal menjabat sebagai Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, dirinya menaruh perhatian besar terhadap tiga aspek utama dalam sistem pemasyarakatan, yakni kesejahteraan pegawai, peningkatan kompetensi warga binaan, serta penguatan kegiatan sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, berbagai program pembinaan yang dijalankan saat ini dirancang agar warga binaan memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal saat kembali ke tengah masyarakat.

“Sejak mengawali tugas di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, fokus kami sederhana tetapi mendasar. Bagaimana meningkatkan kesejahteraan pegawai, bagaimana memberikan pelatihan yang berkualitas kepada warga binaan, dan bagaimana hasil dari proses tersebut dapat memberikan manfaat sosial yang nyata kepada masyarakat,” ujar Agus baru-baru ini.

Menurutnya, keberhasilan program pemasyarakatan tidak hanya diukur dari tingkat pembinaan di dalam lapas, tetapi juga dari sejauh mana hasil pembinaan tersebut mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dari Pelatihan Menjadi Pengabdian

Agus menilai program pertanian yang dikelola warga binaan di Lapas Warungkiara merupakan contoh konkret transformasi pemasyarakatan modern yang mengedepankan produktivitas dan kebermanfaatan.

Hasil pertanian yang diproduksi warga binaan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran dan pelatihan kerja, tetapi juga mendukung berbagai kegiatan sosial yang dijalankan jajaran pemasyarakatan.

“Program seperti ini merupakan sebuah terobosan. Pemasyarakatan tidak hanya berbicara tentang proses reintegrasi sosial setelah warga binaan bebas, tetapi sudah menghadirkan manfaat secara langsung kepada masyarakat bahkan ketika proses pembinaan masih berlangsung,” kata Agus.

Ia menambahkan bahwa berbagai kegiatan produktif yang dijalankan warga binaan juga menjadi bagian dari persiapan menuju kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.

Model Pembinaan yang Memberi Dampak

Keberadaan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) di Lapas Warungkiara menjadi salah satu contoh implementasi pembinaan berbasis keterampilan yang terus didorong Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Melalui pengelolaan pertanian, peternakan, hingga berbagai kegiatan usaha produktif lainnya, warga binaan diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan kerja sekaligus membangun rasa tanggung jawab sosial.

Program tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mendorong transformasi pemasyarakatan menjadi lebih produktif, humanis, dan berdampak.

Dengan keberhasilan program ini, Lapas Warungkiara tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya perubahan, di mana warga binaan dibekali keterampilan, menghasilkan karya, serta berkontribusi langsung bagi masyarakat. (BAA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *