Deloo.id, Tangerang – Transformasi pembinaan di lembaga pemasyarakatan terus menunjukkan hasil nyata.
Salah satu inovasi yang kini mencuri perhatian adalah program Jawara Beton milik Lapas Kelas I Tangerang yang dinilai mampu menjadi model pembinaan kemandirian warga binaan di tingkat nasional.
Apresiasi tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Banten, Lili, saat melaksanakan pembimbingan, monitoring, pengendalian, dan evaluasi di Lapas Kelas I Tangerang.
Dalam kunjungannya, Lili secara khusus meninjau langsung pelaksanaan program Jawara Beton yang menjadi salah satu unggulan pembinaan kemandirian warga binaan.
Program tersebut berfokus pada pengembangan keterampilan kerja di bidang produksi beton dan konstruksi yang memiliki nilai ekonomi serta peluang kerja yang luas di masyarakat.
Menurut Lili, program tersebut bukan hanya memberikan aktivitas produktif bagi warga binaan selama menjalani masa pidana, tetapi juga menjadi bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke lingkungan sosial.
“Program Jawara Beton menunjukkan bagaimana pembinaan pemasyarakatan dapat berjalan secara nyata dan berdampak,” ujar Lili, Minggu (21/6/2026).
“Warga binaan tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga memperoleh keterampilan yang memiliki nilai ekonomi dan dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas,” lanjutnya.
Ia menilai inovasi yang dikembangkan Lapas Kelas I Tangerang tersebut memiliki nilai strategis karena mampu mengintegrasikan aspek pembinaan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam satu program berkelanjutan.
Bahkan, Lili menyebut Jawara Beton memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai lembaga pemasyarakatan di Indonesia.
“Program ini layak menjadi praktik baik pemasyarakatan dan memiliki potensi untuk dijadikan percontohan nasional.
Konsep pembinaannya jelas, hasilnya nyata, dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga binaan maupun masyarakat,” katanya.
Program Jawara Beton sendiri menjadi bagian dari upaya transformasi pemasyarakatan yang menempatkan warga binaan sebagai individu yang harus dipersiapkan kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan mandiri.
Melalui pelatihan yang terstruktur dan berbasis keterampilan kerja, warga binaan diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Selain meningkatkan kemampuan teknis, program tersebut juga membangun disiplin, tanggung jawab, serta etos kerja yang menjadi bekal penting saat memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan masa pidana.
Keberhasilan Jawara Beton dinilai menjadi bukti bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan, tetapi juga mampu menjadi pusat pengembangan keterampilan dan pemberdayaan sumber daya manusia.
Dengan berbagai inovasi yang terus dikembangkan, Lapas Kelas I Tangerang menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan sistem pemasyarakatan yang lebih modern, produktif, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Transformasi tersebut sekaligus memperkuat arah kebijakan pemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada pembinaan, tetapi juga menciptakan peluang bagi warga binaan untuk bangkit, mandiri, dan kembali berkontribusi secara positif setelah menyelesaikan masa hukuman. (BAA)












