Idul Adha di Rutan Jakarta Pusat Khusyuk Lewat Berkurban

Deloo.id, Jakarta – Suasana berbeda menyelimuti Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Jakarta Pusat pada Rabu (27/5/2026). Area rutan yang biasanya dijaga ketat mendadak berubah menjadi pusat ibadah yang sarat kekhusyukan.

Ratusan warga binaan dan petugas berkumpul dalam perayaan Iduladha 1447 Hijriah yang berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat kebersamaan.

Sejak pagi, sekitar 500 jemaah telah memadati area salat. Lantunan takbir terdengar kuat, menggema hingga ke blok-blok hunian. Tidak ada sekat. Tidak ada hirarki. Hanya satu barisan jamaah yang bersujud bersama demi merayakan hari raya kurban.

Khutbah Menggetarkan Hati: Pesan Keikhlasan di Balik Pengorbanan

Sholat Iduladha dipimpin oleh Ustad Muhamad Subhan, M.Hum, yang dalam khutbahnya menyampaikan pesan mendalam. Ia menekankan bahwa Iduladha bukan sekadar ritual tahunan, tetapi simbol keikhlasan Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Tuhan.

“Iduladha adalah pengingat agar kita rela berkorban, memperbaiki diri, dan menguatkan hubungan antarsesama,” seru Subhan di hadapan jamaah yang larut dalam kekhidmatan.

Suasana ibadah berjalan aman, tertib, dan kondusif, diiringi pengamanan terukur dari petugas rutan.

Kurban Kolosal: 15 Sapi & 18 Kambing Dipotong, Seluruh Warga Binaan Kebagian

Usai salat, area rutan kembali dipenuhi aktivitas. Panitia mulai mempersiapkan prosesi penyembelihan kurban. Tahun ini, Rutan Jakarta Pusat menyembelih 33 hewan—15 ekor sapi dan 18 ekor kambing.

Proses penyembelihan dilakukan oleh Juru Sembelih Halal (Juleha) untuk memastikan seluruh tata cara mengikuti syariat Islam dan standar kesehatan.

Petugas dan warga binaan kemudian bergotong royong memotong, membersihkan, hingga mengolah daging kurban yang nantinya didistribusikan secara merata kepada seluruh warga binaan. Suasana penuh kebersamaan terasa kuat, menghadirkan kehangatan di balik tembok rutan.

Pesan Kalapas: Iduladha Bukan Seremonial, Tapi Ruang Pemulihan Mental dan Spiritualitas

Kepala Rutan Kelas I Jakarta Pusat, Wahyu Trah Utomo, menegaskan bahwa kegiatan Iduladha memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan keagamaan tahunan.

“Kami ingin menghadirkan suasana kebersamaan dan menanamkan nilai-nilai spiritual bagi warga binaan, agar proses pembinaan berjalan lebih baik,” ujar Wahyu.

Menurutnya, nilai keikhlasan, solidaritas, dan kebersamaan sangat penting dalam membangun karakter baru bagi warga binaan yang kelak akan kembali ke masyarakat.

Idul Adha yang Mengikat Rasa: Dari Ibadah hingga Dapur Kurban

Tidak hanya menjadi ajang ibadah, Iduladha di Rutan Jakpus juga menjadi ruang pemulihan mental bagi para warga binaan.

Daging hasil kurban diolah menjadi makanan siap konsumsi, lalu dibagikan sebagai bentuk kepedulian sosial internal.

Suasana hangat dan solidaritas yang tercipta sepanjang kegiatan menjadi gambaran bahwa meski berada di balik jeruji, nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup, tumbuh, dan terus dijaga. (BAA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *