Deloo.id, Bogor – Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, kini mulai bertransformasi menjadi pusat produksi pangan yang diharapkan mampu menopang kebutuhan internal sekaligus menjadi ruang belajar bagi warga binaan.
Transformasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan Kawasan Lapas Pangan Mandiri, sebuah program yang mengintegrasikan ketahanan pangan dengan pembinaan kemandirian warga binaan melalui sektor pertanian produktif.
Pengolahan lahan dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Narkotika Gunung Sindur Bambang Wijanarko bersama jajaran pejabat struktural, staf, dan warga binaan yang telah melalui proses asesmen serta dinilai memiliki kemampuan di bidang pertanian.
Di atas lahan tersebut, berbagai komoditas hortikultura seperti singkong, cabai, tomat, dan terong mulai dipersiapkan untuk dibudidayakan.
Hasil panennya direncanakan menjadi salah satu sumber bahan baku bagi Dapur Sehat Lapas Narkotika Gunung Sindur, sehingga sebagian kebutuhan pangan dapat dipenuhi secara mandiri.
Menurut Bambang, program ini tidak sekadar memanfaatkan lahan kosong, tetapi menjadi bagian dari transformasi pemasyarakatan yang menempatkan pembinaan keterampilan sebagai bekal penting bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
“Kami ingin setiap jengkal lahan yang dimiliki lapas memberikan manfaat,” ungkap Bambang kepada Jurnalis Mitra Imigrasi dan Pemasyarakatan (JMIP), Kamis (30/7/2026).
“Kawasan Pangan Mandiri ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi warga binaan agar memiliki keterampilan, pengalaman kerja, dan semangat berwirausaha ketika selesai menjalani masa pidana,” tambah Bambang.
Ia menjelaskan, seluruh warga binaan yang dilibatkan telah melewati proses asesmen sehingga penempatan mereka dalam kegiatan pertanian dilakukan sesuai minat, kemampuan, dan kompetensi masing-masing.
Lebih jauh, kawasan tersebut diproyeksikan berkembang menjadi laboratorium usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di lokasi itu, warga binaan tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga diperkenalkan pada proses pengolahan hasil panen, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembinaan yang berkelanjutan, di mana keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pidana dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah bebas.
Selain memperkuat pembinaan, hasil produksi pertanian juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan bahan makanan internal serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sesuai kapasitas produksi yang tersedia.
Melalui pengembangan Kawasan Lapas Pangan Mandiri, Lapas Narkotika Gunung Sindur menegaskan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjadi tempat menjalani pidana, tetapi juga ruang untuk membangun kompetensi, menumbuhkan produktivitas, dan menciptakan harapan baru melalui program-program yang berdampak bagi masyarakat.
Transformasi lahan menjadi kawasan pertanian produktif ini sekaligus memperlihatkan bagaimana konsep pemasyarakatan terus bergerak menuju pendekatan yang lebih modern, berorientasi pada pemberdayaan, serta mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan sumber daya yang dimiliki secara optimal. (BAA)












